Le Voyage de la Vie

Archive for August 2011

Mau pamitan dulu yaaa *dadah-dadah* ๐Ÿ˜€

Mau kemana jeng?

Hehe, aku mau pamitan nih, mau mudik. Dan berhubung di rumah nggak pasang internet jadi mungkin sampai tanggal 7 September bakal sangat jarang posting atau mungkin malah tidak sama sekali. Pulang kali ini dalam rangka libur Idul Fitri, sekalian membereskan urusan kerja praktek yang belum beres kemarin heuuu. Sekalian mau mengucapkan mohon maaf lahir dan batin ๐Ÿ™‚

Hmm, beberapa hari ini nyaris tidak ada cerita berarti sih selain masih berkutat dengan batuk ๐Ÿ˜ฆ

Oke deh, sampai berjumpa lagi

And they lived happily ever after

Sering dengar frase itu? Ya, tipikal akhir cerita dari sebuah dongeng. Mulai dari cerita luar macem Cinderella, 1001 Nights, Little Red Riding Hood, sampai cerita asli sini kayak Bawang Merah Bawang Putih, banyak banget yang endingnya bahagia dengan kalimat semacam itu. Nggak heran, kita kadang juga berharap mengalami hal seperti itu. But it’s real life guys. Mungkin suatu saat kita nggak ketemu dengan kondisi macam happy ending itu. Mungkin kita merasa nemu happy ending, tapi setelah berapa lama ada masalah-masalah yang datang. Inilah kehidupan nyata, hidup kita nggak berhenti di saat kita merasa menemukan apa yang cocok buat kita. Hidup kita nggak berhenti di saat kita berhasil masuk sekolah/kuliah di tempat yang kita pengen dari dulu. Hidup juga nggak berhenti saat kita dapat kerjaan yang kita idam-idamkan. Hidup kita nggak berhenti saat kita ketemu prince charming. Setelah momen-momen happyย itu, hidup masih berlanjut, kita masih harus kasih yang terbaik dari kita untuk terus survive. Sampai kapan? Well, I believe that the real ending is the eternal life, the after-life. Supaya real endingย itu nanti bener-bener jadi happy ending, ya tentunya nggak bisa sembarangan dong menjalani hidup ini. Tapi disini aku nggak bahas itu lebih dalam. Disini aku cuma mau bilang, apapun yang terjadi, seberat apapun masalah yang kita hadapi, life must go on. ย Saat kenyataan nggak sesuai harapan, bagaimanapun mesti dihadapi juga. Kan nggak mungkin juga tiba-tiba menghilang meninggalkan kenyataan. Kalaupun menghadapi kondisi seperti si Little Mermaid, dimana setelah mengorbankan semuanya buat ketemu pangeran, eh ternyata pangerannya nggak cinta sama dia, *ini gue banget*ย ga usah juga sih turned into bubbles and disappeared. Coba aja buat bangkit lagi. Kayak ending alternatif buat Little Mermaidย yang ditulis Kim Joo-won di drama Secret Garden.ย The Little Mermaid was about to disappear, sheโ€™d noticed the water bubbles and developed an air-bubble washing machine and became a chaebol*.

*chaebol: istilah korea untuk miliuner dari bisnis keluarga

Tags:

Kalau ditanya lebih suka mana antara baca atau nonton, aku bakal jawab baca. Seperti yang pernah aku tulis di sini, aku suka baca novel. Selain novel, aku juga suka baca macem-macem bacaan lain seperti komik (sejauh ini sukanya komik Jepang), buku nonfiksi, koran, sampai bacaan di dunia maya seperti blog. Dulu sih jaman masih tinggal di rumah, kayaknya aku satu-satunya orang di rumah yang baca semua bagian koran, mulai halaman depan, olahraga, sampai berita lokal dan artikel. Dengan baca aku jadi bisa tahu banyak hal, termasuk hal-hal unik yang sebelumnya ga pernah dengar. Dengan baca juga, terutama bacaan fiksi, aku bisa membayangkan diriku ada disana, ikut larut dalam ceritanya ๐Ÿ˜€ Bahkan sering sampai kebawa mimpi. Dulu aku paling seneng kalau dikado buku. Tapi lama-lama kurang berharap dikasih buku sih, karena kadang ada yang ngasih buku yang udah pernah aku baca, bahkan masih inget banget ceritanya. Kayak kado ultah keberapa itu dari mantan, si Mr. A.

Soal nonton, aku juga suka sih sebenernya. Malah di waktu dan kondisi tertentu aku lebih milih nonton daripada baca. Misalnya kemarin di kereta waktu balik ke Bandung habis kerja praktek, aku nonton 9 episode drama Korea, Secret Garden, yang tiap episodenya sekitar 1 jam ๐Ÿ˜€ Aku juga suka nonton film layar lebar *jiah, masih ada ya istilah begini* tapi khusus untuk film yang bagus dan seru buat ditonton di bioskop. Sayang duit, maklum anak kosan. Selain itu aku juga sering nonton di laptop, film lepas ataupun serial.

Tapiiii, bagaimanapun juga aku masih lebih suka baca. Kenapa? Pertama karena kalau baca, khususnya novel tanpa ilustrasi, aku bisa membayangkan situasinya. Punya gambaran situasi ceritanya di kepala itu asyik deh. Bahkan kadang kalau ada buku yang diadaptasi ke film, sebut saja Harry Potter, aku sering agak gimana gitu karena merusak imajinasiku tentang cerita itu ๐Ÿ˜› Kedua dan ini yang pengaruh banget, kalau baca aku bisa mengatur kecepatan baca alias paceย sesukaku. Aku sih termasuk orang yang kecepatan bacanya lumayan cepet. Tapi kalau ada hal-hal yang pengen aku perhatikan detail, kecepatan baca kan bisa langsung dikurangi, atau kalo mau balik satu dua kalimat gampang aja. Nah kalau nonton kan mau nggak mau harus mengikuti kecepatan cerita yang disajikan. Emang sih kalau nonton DVD atau di laptop bisa rewind atau fast forwardย tapi tetep aja tidak sefleksibel kalau baca. Rewindย sih mungkin cuma bikin jadi lebih lama, tapi kalau lagi bagian membosankan dan di-fast forward, bisa-bisa ada info penting yang malah nggak ketangkep sama kita.

Nah jadi kalau ditanya lebih suka mana antara baca dan nonton, aku bakal jawab baca. Tapi kalau pertanyaannya pilih mana baca atau nonton, jawabanku yaaa dua-duanya hehehe ๐Ÿ˜€

Tags: ,

Kemarin waktu kuliah Rekayasa Produk Partikulat dan membahas tentang pupuk, dosennya cerita kalau di luar negeri itu sebelum memutuskan pakai pupuk apa, petani bakal kirim sampel tanahnya buat diuji, unsur apa yang kurang di tananh. Baru setelah itu dipilih pupuk yang cocok buat mengatasi kekurangan itu. Sementara di Indonesia, kebanyakan petaninya pakai pupuk yang murah aja, biasanya urea. Padahal belum tentu tanahnya itu kekurangan nitrogen.

Terus aku juga pernah baca, kalau disini orang sakit biasanya males ke dokter kalo belum parah-parah amat. Biasanya langsung pakai obat over the counter aja. Gue juga sih. Nah padahal kan belum tentu obatnya cocok sama penyakit kita. Belum lagi kalo alergi.

Kupikir-pikir sebenernya diagnosis itu penting yah. Kalau ada masalah, sebelum heboh cari jalan keluarnya (HOW), mesti dicari dulu penyebab masalahnya apa (WHY). Karena nggak semua masalah yang sama penyebabnya sama, dan kalau penyebabnya beda penanganannya beda juga dong. Makanya kalau bikin karya tulis, tugas akhir, atau apalah itu, bab I isinya tentang latar belakang, tujuan, dll. Yang mana itu menjelaskan masalahnya apa alias WHY. Kenapa hal itu perlu dibahas. Metode buat menyelesaikannya alias HOW ditaruh setelah itu, mungkin di bab III atau tergantung format ๐Ÿ˜› Tapi kalau yang aku lihat sekarang nih, kayaknya kok banyak ya yang heboh dengan berbagai alternatif penyelesaian masalah tanpa menggali lebih dalam penyelesaian masalahnya apa. Misalnya soal pendidikan, korupsi, atau masalah sosial lain. Penyelesaian masalah juga sering diterapkannya dalam jangkauan yang luas. Padahal kan dari satu tempat ke tempat lain, akar masalahnya mungkin beda. Penyelesaian yang bagus di satu tempat dan kondisi, bisa saja malah maksa kalo diterapkan di tempat lain. Jadi, identifikasi masalah itu penting sebelum mencari penyelesaian masalah.

Berhubung masih sakit tenggorokan lanjutan kemarin, dan ditambah batuk pula, jadi hari ini cari menu buka puasa yang berkuah. Tadi mestinya kuliah sampai jam 6 sore (di jadwal) tapi berhubung baru pertemuan pertama jadi belum jam 5 kelasnya udah selesai. Jadi aku langsung pergi cari sop. Tempat jual sop favoritku di Dago, dekat Bangbayang. Namanya Batavia Sop. Sekitar seberangnya Kedai Mie Dago. Menunya sop buntut, sop ayam, sop lidah, dll. Tapi aku baru pernah coba sop buntutnya dan enak lho.

Habis dari situ aku jalan kaki ke Tubagus Ismail 2, ke apotik buat beli obat batuk. Terus mampir ke Indomaret beli vitamin karena lagi ada promo beli 1 gratis 1 ๐Ÿ˜€ *anak kos nggak mau rugi* Habis itu jalan lagi ke Barokah buat beli beras. Kayaknya sekarang di sekitar Tubagus banyak penjual makanan baru deh. Selain kolak dan es kelapa yang emang hip banget kalo puasa, ada juga Bakmi Modjo di dekat Indomaret, Burger dekat Serbarame, dan China Box dekat Tubagus Ismail 6. Belum sempat cobain semua nih.

Sampai kos pas maghrib. Bikin teh manis, rebus telur, masak nasi, buka puasa deh. Ini lho tampangnya si sop buntut tadi.

sop buntut dan teh manis

Itu nasinya udah dimakan sekitar seperempat. Banyak ya aku makannya. Bagian agak begonya sih karena emang doyan pedes, aku masukin aja semua sambelnya sebungkus itu. Hiks padahal kan sakit tenggorokan. Guilty pleasure…

Bukan, ini bukan menu buka puasaku.

Ini juga bukan belanjaanku hari ini.

Juga bukan isi rujak.

Tapi tenggorokanku hari ini rasanya kayak ditusuk durian ato diisi kedondong. Hekh, gatel dan sakit deh ๐Ÿ˜ฆ Nggak tahu kenapa, padahal beberapa hari ini nggak pernah minum es, nggak makan aneh-aneh, dan selalu minum vitamin. Tadi udah beli obat sakit tenggorokan sih, itu lho yang bentuknya lingkaran ada bolong di tengahnya ๐Ÿ˜€ Nunggu buka deh baru diminum diemut.

Eniwei, hari ini tadi masuk salah satu kuliah pilihan yang sebenernya nggak aku pilih di KSM. Habis nama mata kuliahnya nampak serem ๐Ÿ˜› Tapi setelah tau mata kuliah ini nggak ada ujian dan bakal diisi tugas serta presentasi, aku akhirnya pengen ikutan. Masalahnya jadwal mata kuliah ini nabrak sama mata kuliah lain yang pengen aku ambil juga. Nah lo. Untungnya dosen mata kuliah ini adalah dosen pembimbing penelitianku, jadi setelah tanya-tanya disuruh datang aja dulu biar nanti bisa didiskusikan jam kuliah yang enak buat semua. Eh ternyata banyak juga yang ambil, seperti keinginan dosennya, sekitar 5-10 (tadinya di daftar peserta cuma 3). Yah semoga jadwalnya nanti bisa oke. Kalo berhasil ambil kuliah ini sih berarti semester ini kuliah Senin – Kamis. Hari Kamisnya itupun cuma sampai jam 10. Nampak senggang ya? Teng tong, ternyata tidak. Semester ini kan harus ngerjain penelitian. Huks semangat deeeeh.

Nah jadi dari seminggu lebih kuliah yang kebanyakan diisi dengan pindah-pindah mata kuliah pilihan ini, akhirnya aku menyimpulkan kalo pemilihan mata kuliah pilihan di jurusanku pertimbangannya adalah:

  • minat (ya ini idealnya sih)
  • teman (biar kalo kelas dan mau ujian bisa bareng belajarnya)
  • dosen (mumpung bisa milih, kalo kuliah wajib kan ditentukan kelasnya)
  • waktu (sebisa mungkin yang jamnya nggak nyempil di tengah jam kosong, nggak terlalu pagi, dan nggak terlalu sore)

Kalopun waktu FRS merasa milih mata kuliah yang kurang cocok, marilah menunggu masa PRS ๐Ÿ˜€

Dari cerita kemarin, printerku kan tintanya habis. Nah pagi tadi tintanya aku isi ulang. Nih printer jenis yang udah dimodifikasi, jadi tinta infus. Yang ada tempat tintanya di luar itu lho. Setelah diisi, belum aku coba. Tiba-tiba Tika si temen kosan mau numpang ngeprint. 4 halaman pertama baik-baik aja. Eh habis itu paper jam. Haduuuh. Bingung juga karena habis diapa-apain tetep aja si kertas nyangkut. Untungnya nggak gitu lama akhirnya bisa keluar si kertas nakal itu. Masalahnya nggak berhenti di situ. Printernya tetep nggak mau jalan karena cartridge bukan cartridge asli. Halah, siapa juga yang mau pake cartridge asli nan menguras kantong, huhu. Akhirnya setelah trial and error (matiin dan hidupin ulang berkali-kali ๐Ÿ˜› ) fiuuuh bisa jalan juga ๐Ÿ˜€

Tags: ,