Le Voyage de la Vie

The Sweetest Thing by Christina Mandelski

Posted on: September 17, 2011

Setelah sejak libur lebaran kemarin bacaanku adalah novel-novel Jane Austen mulai Pride and Prejudice, Persuasion, Northanger Abbey, dan Emma *sampai bosen*, kemarin aku beralih ke novel young adult. Semacam teenlit gitu kali ya? Ceritanya cukup ringan dan tokohnya berumur belasan tahun. Judulnya The Sweetest Thing. Eh sebelumnya, bukan berarti aku nggak suka novel Jane Austen. Bagus sih, tapi memang sebaiknya nggak baca novel dari satu penulis yang sama terus-menerus dalam jangka waktu singkat. Kecuali kalo novelnya memang berseri atau tokohnya sama (macam Poirot-nya Agatha Christie, novelnya berdiri sendiri-sendiri tapi tokoh utamanya sama). Soalnya kalo baca novel dari penulis yang sama itu, biasanya lama-lama bakal ketebak polanya. Ini bisa mengurangi keasyikan baca. Dulu aku juga pernah sih mengalami kayak gini, waktu baca maraton novel-novel Dan Brown. Berasa pola ceritanya sama semua gitu.

Nah balik ke buku yang aku baca, The Sweetest Thing ini memang tipikal novel cewek remaja. Ceritanya berkisar di problematika keluarga, teman, dan dating. Lengkap sama tokoh utama yang nggak terlalu populer tapi punya talent, sasaran crush si tokoh utama yang atlet keren, pacar si atlet yang cheerleader, sahabat si tokoh utama yang diam-diam naksir dia, dan sebagainya. Khas cerita-cerita high school di Amerika. Tokoh utama di novel ini namanya Sheridan Wells, umur 15 tahun. Ayahnya seorang chef, dan dia sendiri jago mendekorasi cake. Sheridan tinggal di sebuah kota kecil bersama ayahnya yang buka restoran di dekat rumah mereka. Neneknya tinggal di dekat situ juga dan buka bakery dimana dia ikut kerja mendekorasi cake. Ibunya pergi dari rumah waktu dia umur 8 tahun, tapi dia masih sangat berharap ibunya bakal kembali. Karena itu dia mati-matian menolak waktu ayahnya dapat tawaran buat punya acara TV sendiri dan kemungkinan pindah ke New York. Sementara itu di sekolah Sheridan naksir Ethan, si atlet.

Novel ini ceritanya cukup simpel, dan titk beratnya ada pada menerima realita. Kadang apa yang sudah dimiliki rasanya kurang berarti saat kita berusaha mengejar apa yang belum kita miliki. Padahal apa yang belum dimiliki itu tidak selalu lebih berarti daripada apa yang sudah dimiliki, yang merupakan realita. Menurutku buku ini lumayan bagus sih, pesannya mengena dan latar belakang yang diambil yaitu di dunia kuliner bikin ceritanya makin menarik. Oya menurut website penulisnya, ini adalah novel debut sang penulis lho.

(Sumber gambar: http://www.christinamandelski.com/wpimages/wpefb4550f_05.jpg)

Advertisements

4 Responses to "The Sweetest Thing by Christina Mandelski"

woooh bacaannya asli tingkat tinggi semua, ya gitu dong mbak baca teenlit aku pinjem dong hehe 🙂

haha silakan nih 😀

Waaaah, bacaan Nina berat euy…waktu lihat buku Pride and Prejudice aja tante masih mikir buat belinya Nin, bukan apa-apa…kesannya sastra banget gitu lo…
Hehe, btw, thanks buat berbagi kisah tentang Christina Mandelski-nya, sesuatu banget… 😛

Pride and Prejudice bahasanya agak berat sih tante,kan jadul gitu,tapi isinya sebenernya nggak terlalu bikin mikir sih
dan happy ending 😀 *benci cerita sad ending*
hihi,sesuatu banget kayak syahrini 😛

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: