Le Voyage de la Vie

Archive for December 2011

Berhubung habis nulis tentang Kambing Soen, aku jadi kepingin mulis tentang kuliner Bandung lagi. Kalau yang satu ini makannya udah agak lama, bulan November kemarin. Perginya tidak terencana, berawal dari mau ujian sebuah mata kuliah yang sejujurnya waktu itu aku dan teman-teman masih cukup blank. Nah waktu belajar bareng di student lounge prodi TK, ada kakak kelas yang baru lulus nyamperin. Dia bilang punya kumpulan soal dan penjelasannnya, tapi ada di rumah. Sementara dia setelahnya harus pergi ke Jakarta, padahal kami kuliah sampai maghrib. Akhirnya dia menyuruh kami buat ambil soalnya di rumah dia, di daerah Cipaganti.

Habis kuliah dan nunggu yang rapat, sekitar jam 7 kami pergi ke daerah Cipaganti, seperti biasa pakai mobilnya Ilma. Setelah insiden kecil dimana di rumah si kakak kelas ada anjing padahal 3 dari 4 wanita yang pergi kesana fobia anjing 😆 dan sedikit bongkar-bongkar lemari, soal yang dicari pun ditemukan. Berhubung sudah lapar, kami cari makan dulu sekalian sebelum pulag. Seperti biasa juga, kalau sama anak-anak ini yang mayoritas plegmatis, bingung deh mau menentukan makan di mana. Jawaban yang keluar selalu “Terserah” 😀 Entah bagaimana deh pokoknya kami akhirnya makan di Iga Bakar Si Jangkung Cipaganti.

Tempatnya ada di Jalan Cipaganti, dekat masjib besar. Tempatnya tidak terlalu besar, kayak depot gitu dengan meja-meja panjang dan kursi plastik. Ada live music juga 😛 Pilihan menunya iga bakar, tongseng, dan lain-lain *aku lupa* dengan pilihan sapi atau kambing. Disajikan di hotplate jadi nggak cepat dingin. Enak banget loh menurut gue. Yang macam tongseng gitu kalau nggak salah harganya belasan, yang iga bakar 20 ribu. Kalau dalam skala 0-5, aku bisa kasih nilai 5 deh. Apalagi buat penggemar makanan pedas kayak aku, iga bakarnya mantap lah 😀 Cuma agak lama aja masaknya, mungkin karena lagi rame juga. Berhubung waktu itu nggak bawa kamera, jadi fotonya ambil dari sumber lain ya

Sumber gambar: travel.kompas.com

Kalau lagi wisata kuliner di Bandung atau sekedar lapar, tempat ini direkomendasikan banget deh. Buat kesananya kalau naik angkot, setauku Caheum-Ciroyom lewat situ. Dan bolehlah ajak-ajak penulis blog ini kalau mau makan di situ :mrgreen:

Hari Sabtu kemarin aku makan di Kambing Soen di daerah Dago. Lokasinya agak atas, kalau dari bawah setelahnya Sheraton, sebelah kanan jalan. Sebenarnya sudah agak lama pengen kesini sama teman-teman kuliah-belajar bareng, tapi belum sempat. Akhirnya waktu kemarin ada teman lain yang ngajak, pergi deh.

Sesuai namanya, menu yang disediakan tempat ini berkisar kambing dan masakan timur tengah gitu. Tempatnya lumayan enak, semi-outdoor dan ada TV besar.

Itu foto interiornya. Tapi karena lampunya tidak terlalu terang dan tidak ada colokan listrik, jelas ini bukan pilihan tempat buat makan-sambil-nugas-atau-belajar, aktivitas rutin terutama di musim ujian 😆

Soal makanan, lumayan sih. Ya dalm skala 0-5, aku kasih nilai 3. Kalau dari rasa sebenarnya diatas itu, tapi porsinya sedikit *ya maap, saya makannya banyak meski lama banget* 😛 Aku kemarin pilih menu paket yang isinya kambing bakar, nasi, dan iced lemon tea. Kalau si teman makan sup ala timur tengah which turned out to be tidak lain adalah semacam gule 😆 Pilihan lain ada tongseng, sate, makanan yang agak ringan seperti roti bakar dan pancake juga ada. Minumnya macam-macam, ada jus, berbagai varian kopi, dan es krim. Sayangnya makanannya nggak sempat difoto, pas makanannya datang udah lapar jadi lupa deh sama acara foto-foto :mrgreen: Secara keseluruhan, kalau lagi ada di sekitar Dgao bolehlah dicoba, tapi kalau sekalian pengen jalan-jalan ke daerah lain ada beberapa alternatif makanan serupa yang mungkin lebih mengenyangkan 😀

Dua hari kemarin, karena sesuatu hal aku jadi melihat banyak tayangan TV. Biasanya aku nyaris tidak pernah menonton TV, karena tidak punya di kamar kos, dan TV bersama di kos adanya di lantai bawah yang jauh dari kamarku. Jadi aku mengikuti berita kebanyakan dari baca koran atau baca di portal berita dunia maya. Ternyata beda tau berita dari baca dengan melihat cuplikan peristiwa langsung di TV.

Berita yang paling banyak aku lihat adalah tentang kilas balik tsunami Aceh 7 tahun lalu dan konflik berdarah yang terjadi di beberapa daerah di Indonesia, antara lain di Mesuji dan Bima. Miris lihatnya. Miris melihat bagaimana di Aceh masih ada pengungsi yang hidupnya belum bisa kembali normal seperti sebelum terjadi tsunami. Padahal di berita juga ada kilas balik peristiwa 2011, salah satunya tentang tsunami di Jepang, dimana mereka nampak segera bangkit dari bencana alam yang menerpa tersebut. Juga miris melihat bagaimana aparat yang seharusnya menjaga keamanan malah membubarkan demonstrasi warga dengan kekerasan. Aku sempat melihat adegan dimana seorang ibu juga diperlakukan demikian oleh aparat keamanan. Dimana nurani? Aku tidak bilang kalau sekarang semua negatif begitu, tapi kenyataannya banyak.

Ya, melihat ini aku jadi makin merasa bahwa sudah bukan saatnya cuma diam dan mengomentari mengapa negeri ini begini dan begitu. Ini membuat semangatku bertambah untuk ikut serta berusaha membawa perubahan ke arah yang lebih baik.

Tags: ,

Iseng-iseng nih, kemarin aku merasa kok banyak banget ya barang yang bisa dimasukkan ke tas kecilku. Tas ini warnanya coklat dan biasanya aku pakai kalau ada kegiatan selain kuliah atau les. Pokoknya yang nggak perlu bawa buku karena seukuran binder atau buku tulispun nggak muat. Eh tapi ternyata kalau barang-barang kecil bisa muat banyak juga.

Itu foto aku lagi pakai tasnya ke acara resepsi nikahan. Fotonya diambil oleh kuudew. Kelihatan kan ukurannya tidak seberapa besar.

Kalau penampilan tasnya dari jarak dekat seperti ini:

Nah tas segitu itu ternyata bisa diisi barang-barang ini:

Dari paling kiri ada payung, maklum Bandung sering hujan. Terus ada air mineral botol mini 330 ml biar bisa masuk tas. Selanjutnya ada HP berikut headset, tempat kacamata, tisu, dan face paper. Kalau yang di kresek hitam itu belanjaan, dalaman jilbab :-P. Selanjutnya ada notes kecil warna hijau lengkap dengan pulpen, jepit rambut buat poni (?) dan kunci kos yang ada talinya. Yang biru itu tas dari seminar STKSR yang bisa dilipat kecil dan dibuka saat diperlukan. Di pojok kanan bawah ada dompet dan wafer untuk cemilan saat lapar 😀

Tags:

Semester tujuh buat aku (belum) berakhir. Yep, masih ada satu mata kuliah yang sudah jelas nggak beres di semester ini. I have expected it though. Mata kuliah tugas akhir sih. Dear my bacteria, please be cooperative next semester okay? 😉

Tapi dari yang sudah terlewati ini, aku merasa banyak mendapat pelajaran berharga dari banyak hal di semester 7 ini. Pertama, sebelum semester ini mulai, *betewe, kenapa sih dari tadi salah ketik mulu jadi semesetr 😡 * ada sebuah perubahan besar yang terjadi dalam hidupku. Tidak perlu dibahas lebih dalam, yang jelas aku jadi belajar untuk keluar dari zona nyamanku dan merasakan bahwa di luar itu kalau aku mau berusaha, aku juga tidak semenderita bayanganku kok 🙂

Selanjutnya, di semester ini aku banyak kesibukan. Lebih daripada biasanya. Ya meskipun secara akademik udah nggak ada si praktikum 2 SKS tapi memakan waktu 2 hari penuh belum termasuk bikin jurnal, laporan, dan pembicaraan pra serta pasca praktikum sama dosen. Bukannya aku mengeluhkan praktikum itu, belajar banyak hal juga kok dari situ. Balik ke topik, semester ini aku ambil 22 SKS. Wohooo, jumlah SKS terbanyak yang pernah aku ambil. Tapi bukan semuanya SKS kuliah di kelas, ada 2 SKS kerja praktek yang udah dilakukan waktu liburan dan tinggal pembicaraan sama dosen pembimbing. Terus ada 3 SKS penelitian teknologi bioproses *ini nih tersangkanya, yang bikin semester ini belum tuntas, dasar bakteri rewel* 😥

Lanjuuuut, selain akademik di kampus, aku juga melanjutkan les Prancisku dengan harapan bisa ikut tes DELF. Cerita lengkap mengenai per-DELF-an ini ada di sini. Oya hasilnya udah keluar, alhamdulillah lulus. Yang bagian Compréhension de l’écrit alias pemahaman teks (kalo inggris mah reading), aku dapat 25 dari 25 😀 hepi deh. *Merci beaucoup Monsieur Kiky* Terus aku juga ada kegiatan lain di luar kampus. Sesuatu yang bikin aku menyadari hidupku buat apa deh. Kalo di dalam kampus sendiri semester kemarin tuh aku ikut di sekretariat STKSR (Seminar Teknik Kimia Soehadi Reksowardojo) yang salah satu job tidak resminya adalah ikut menemani peserta dari luar negeri mbolang di Bandung 😀 Asyik lah melancarkan Inggris. Terima kasih buat Ajimufti sang kadiv dan Ganies Ryadi yang mengajak menemani tamu itu.  Terus ada Reuni Akbar 70 Tahun Teknik Kimia, jadi LO. Ini dapat fee bok 😛 Terima kasih para koordinator Dewi dan Tika. Dan yang paling berkesan adalah Himatek Berkarir, pertama jadi ketua acara pas kuliah ini 😳 Meskipun maish banyak kurang di sana-sini tapi terima kasih pada alumni TK77 dan teman-teman panitia semuanya deh.

Soal terima kasih, banyak banget nih yang harus dikasih ucapan terima kasih 🙂 Selain my beloved parents tentunya, juga banyak yang lain, yaitu:

  • Para penghuni kosan gaul-asyik (sejak kapan sih istilahnya jadi begini? Kosan rajin aja gimana woy?), Novita Dwi Putri dan Dewi Rakhmawati yang udah sering diinepin terutama kalau mau ujian. Bahkan baju bobok masih ada yang ketinggalan 😛 Beserta para peserta camp, Ilma Nafiani yang jadi teman berlomba dan berbelanja 😀 serta Anissa Nurdiawati yang baik hati dan pintar *lagi*. Juga terima kasih lagi buat Nonop dan Ilma partner tugas besar TK5019. Ilma, Nonop dan Dewi buat CPDC. Anur buat jadi model di blog 😛 Jangan lupa nambah properti papan tulis dan kotak amal buat semester depan ya kawan *serius*

Paling kiri aku sendiri, Dewi, Novita (Nonop), Anissa (Anur), dan Ilma

  • Para peserta kelas TK5024 atas ketabahannya bingung bersama terutama pada akhir semester 😀 Terlebih lagi  partner tugas besar, Edwin Caesario dan Neil Priharto.
  • Para peserta kelas TK5006 yang mengira tidak ada ujian tapi ternyata ada 😆 Terutama Primandaru Widjaya partner presentasiku, Qintha yang catatannya oke, Rio, Willy, Wandi, Widi buat bantuannya mengerjakan Setengah UAS terakhir.
  • Teman sekelompok di TK4103, Karmelita, Abdurrachman Naim, dan Lius Daniel.
  • Partner TK4092 Eliezer dan dosen pembimbing penelitian Ibu Penia.
  • Asisten TK4111 yang baik hati, Adri Kristian. Gue tau kr itu kronor 😀
  • Partner TK4090 Rahma Utari berikut pembimbing di Unilever, Pak Doni Sukarno dan dosen pembimbing Pak Tri.
  • Dan semua teman di TK buat bantuan dan dukungannya baik untuk urusan akademik maupun nonakademik.
  • Berikut para dosen yang luar biasa
  • Serta para laboran yang luar biasa pula. Trio lab mikro Pak Komar, Teh Dewi, dan Teh Ratna. Juga para petugas TU yang baik hati, Pak Paidi dan juga Bu Lina yang sudah aku bikin repot soal KP. Terima kasih banyak.
  • Teman-teman di luar sana yang banyak memberi pandangan baru
  • Si mbak kamar sebelah, gadis geologi Risa Prameswari yang beberapa kali menyelamatkan aku dari ketiduran yang fatal ketika mestinya belajar atau bikin tugas, karena selalu kepo kalau aku dipanggil diam saja tapi lampu masih nyala 😆 *kalau niat tidur beneran aku mesti matiin lampu*. Terima kasih juga Risa dan ibunya untuk tebengan pada beberapa Senin pagi yang menyelamatkanku dari telat 😀
  • Dan anak-anak kosan lainnya, termasuk yang barusan lulus 🙂
  • Dua yang menjalani LDF sama aku 😳 Long Distance Friendship maksudnya 😆 yaitu mas C, Dwi Cahyo Ardianto yang entahlah sulit dijelaskan dengan kata-kata lagi, pokoknya udah ngerti aku banget deh 🙂 Tiap kali ngobrol sama orang ini rasanya ajaib, topik apapun bisa dibahas. Bener-bener apapun, mulai dari curhatan galau, karir, sampai sejarah dan teknologi, apapun bisa nyambung deh. Dan satunya, mbak Tirandan Primalia yang super baek hati. Terima kasih untuk momen waktu libur Idul Fitri kemarin 🙂 Be strong girl.
  • Dan para blogger yang memberi inspirasi serta kesempatan refreshing melalui tulisan-tulisan dan komentar-komentarnya.

Semester tujuh ini penuh warna deh. Memang STMJ 😛 tapi keseluruhan aku merasa mendapat banyak pelajaran berharga di semester ini. Mungkin kalau soal ini bakal terlalu panjang dibahas di satu tulisan sini juga, jadi bakal aku tulis di post lain 😀

Ciao!

*Aduh pas lagi di depan laptop ini nggak sengaja lutut kejeduk meja 😥 kayaknya bakal biru ini besok huaaa*

Senin tanggal 19 Desember kemarin resminya hari terakhir UAS semester ganjil di kampus gajah duduk. Kalo di prodiku sih hari Selasa masih ada seminar kemajuan penelitian. Tapi intinya kegiatan resmi belajar mengajar alias jadwal perkuliahan sudah tidak ada. Jadilah kampus sepi, jauh lebih sepi daripada biasanya. Kantin-kantin dalam kampus pun tutup, setauku cuma kantin delivery “Mie TI” yang buka. Omong-omong kenapa disebut Mie TI? Karena dulunya dia cuma jualan mie ayam baso. Dan letaknya di dekat prodi Teknik Industri. Tapi sekarang jual masakan macem-macem yang hampir semuanya seharga 8000. Kalau lagi lapar tapi mager, para penghuni kampus bagian barat-belakang biasanya pesan makanan di situ. Tinggal bilang waktu mas-masnya ngambilin piring kotor atau SMS atau telepon, makanan akan diantar, tak peduli walau badai menghadang 😆 Neng Anissa di postingan ini tuh lagi makan dari pesen “Mie TI”

Nah kemarin aku iseng-iseng jalan keliling kampus yang sepi itu. Terus karena kebetulan bawa kamera, jadi foto-foto deh. Fotonya biasa aja sih, bukan penggemar fotografi dan kameranya juga bukan DSLR 😛 Ada sedikit pengeditan pada foto-foto berikut.

Itu namanya kantin kebab, jualan kebab, burger, sandwich gitu. Tempatnya di Labtek VI, dekat prodi Biologi. Ada makanan kecil dan minuman kemasan juga. Biasanya jadi menu makan siang kalo lagi buru-buru.

Kalo yang ini Labtek VI (tempatnya Teknik Fisika dan Teknik Kelautan), difoto dari Labtek XI.

Meja-meja dan kursi yang ditumpuk diatasnya itu adalah Kantin Borju di Labtek V. Kantin ini menyediakan menu yang relatif sehat tapi mahal dibanding kantin-kantin lain. Kalo dari prodiku, kantin ini asyik karena ada jalur anti hujannya. Jadi kalau hujan badai biasanya makan disini.

Dua foto diatas diambil dari tengah kampus, di dekat titik gema, dekat DPR (di bawah pohon rindang). Yang atas fotonya ke arah bagian depan kampus, ada tugu Soekarno dan kolam Indonesia Tenggelam. Yang bawah ke arah belakang kampus. Sebelah kanan foto ada gedung PLN (yang lebih dekat, terlihat atapnya seuprit) dan gedung Comlabs. Sebelah kiri ada gedung TVST (yang lebih dekat), dan gedung Oktagon.

Nah dari foto-foto diatas kelihatan kan kalau kampusnya cukup sepi? Ya sebenernya masih banyak orang sih, mislanya yang lagi ada kegiatan atau para swasta (mahasiswa tingkat akhir) berusaha menyelesaikan tugas akhir. Semangat deh 😀

Gadis dalam foto diatas adalah Anissa, seorang mahasiswi yang sedang mengisi energi dengan makan siang di tengah kesibukannya di laboratorium mengerjakan penelitian tentang energi. Mungkin saking sibuknya, dia masih memakai jas laboratoriumnya. Semoga setelah makan siang, sang objek foto yang pintar dan baik hati ini makin semangat mengerjakan penelitian meskipun sedang masa liburan.

Potret ini di ikut sertakan dalam Kontes Perempuan dan Aktivitas yang di  selenggarakan  oleh Ibu Fauzan dan  Mama Olive

Dilihat-lihat, sekarang ini minimarket menjamur dimana-mana, terutama di kota besar. Kalau di kampung kayak rumahku sih masih jarang 😛 Nah kali ini aku mau menulis tentang minimarket. Dulu waktu masih tinggal di rumah aku jarang belanja ke minimarket. Selain karena jaraknya agak jauh (bukan jarak jalan kaki), juga karena orang tuaku punya toko kecil yang selain jual seragam sekolah dan sepatu, juga jual kebutuhan sehari-hari. Istilahnya toko kelontong ya kalau tidak salah?

Begitu hidup merantau di Bandung, aku jadi sering ke minimarket. Terutama setelah kos di kosan yang sekarang. Di sebelah gang masuk ke kos ada minimarket, tidak jauh dari situ juga ada minimarket lain. Dua minimarket waralaba berhadap-hadapan malah. Kalau aku lihat, kebanyakan yang belanja di sana anak-anak seumuranku, mahasiswa sih sepertinya. Cukup wajar, daerah sini memang banyak rumah kos buat mahasiswa. Sebenarnya banyak juga toko-toko kelontong kecil di sekitar sini. Tapi biasanya mahasiswa-mahasiswa ini lebih milih belanja ke minimarket. Kenapa?

Kalau dari aku pribadi, aku memang lebih suka belanja di minimarket. Barang-barangnya lebih lengkap, jadi bisa belanja macam-macam sekalian di satu tempat. Mau belanja sabun cuci yang kemasan besar sekalian beli batere, telur, selotip, dan makanan kecil semua bisa dilakukan di satu tempat. Ini kombinasi belanjaannya random banget ya 😆 Selain itu pilihan variannya juga lebih banyak. Misalnya wafer X kalau di toko kelontong cuma ada varian vanila dan cokelat, kalau di minimarket ada yang rasa stroberi, tiramisu, dan lainnya. Untuk minuman juga biasanya ada kulkas, jadi bisa langsung minum dingin. Apalagi kalau belanjanya bareng sama teman-teman, lebih praktis lagi karena semua bisa belanja apa yang dibutuhkan masing-masing di satu tempat. Faktor lain, kalau di minimarket kan barang-barangnya ada label harga, jadi bisa mengira-ngira dulu sebelum beli. Dan tidak usah repot-repot tanya. Agak malu juga sih kalo belanja di toko terus mau bandingin harga antara beberapa barang setipe terus harus tanya-tanya.

Dari sudut pandang konsumen, keberadaan minimarket memang memudahkan. Tapi bagaimana kalau dilihat dari sudut pandang pemilik usaha kecil dan mikro berupa toko kelontong? Minimarket merupakan saingan yang cukup berat. Aku bisa bilang ini ya karena lihat usaha orang tuaku sendiri. Bahkan di daerah rumahku yang minimarketnya cukup jauh, orang kadang lebih milih ke minimarket. Biasanya sekalian pergi keluar, mungkin sambil cari makan atau apa. Beberapa tahun belakangan untuk barang kebutuhan sehari-hari memang terasa lebih sepi lho. Kalau untuk seragam sekolah, sepatu, dan lain-lainnya sih memang masih cukup banyak dicari orang, daripada harus ke toko besar atau pusat grosir yang jauh. Kembali ke topik, untuk menyaingi minimarket misalnya dari segi jumlah dan jenis barang yang dijual ataupun luas toko, tentunya pemilik toko kelontong perlu modal besar. Yang mana belum tentu dimiliki oleh sebagian besar dari mereka. Sementara tanpa peningkatan tersebut, bisa jadi lama kelamaan akan kalah bersaing dengan minimarket dan bahkan bisa gulung tikar.

Jadi bagaimana solusinya? Perlu tidak sih ada regulasi yang mengatur keberadaan minimarket agar tidak mematikan usaha kecil dan mikro? Sejujurnya opiniku sendiri dalan hal ini agak terbagi. Di satu sisi aku pikir memang seharusnya ada regulasi untuk melindungi usaha kecil dan mikro. Di sisi lain, sebagai konsumen aku pribadi lebih nyaman belanja di minimarket. Jadi aku rasa regulasi yang paling memungkinkan adalah dengan menerapkan pajak atau semacamnya untuk usaha seperti minimarket, sehingga nantinya mau tidak mau harga yang ditawarkan minimarket akan sedikit lebih tinggi daripada harga barang di toko kelontong. Dengan begitu, konsumen bisa memilih mau belanja lebih hemat di toko kelontong atau belanja di minimarket dengan harga sedikit lebih mahal. Aku tidak tahu pasti apakah regulasi seperti ini sudah ada. Aku berharap sih usaha kecil dna mikro yang menjadi sandaran hidup banyak keluarga tidak mati karena arus modernisasi dan modal besar yang dimiliki pengusaha modern.

Ih wise banget ya judulnya 😛 *terus langsung dirusak oleh kalimat ini* 😆

Hari ini aku pergi ke Jakarta sama teman-teman sejurusan buat menghadiri resepsi nikah mantan kahim HIMATEK angkatan 2006 dengan kakak NIM aku 🙂 Kakak NIM itu orang yang NIM belakangnya sama tapi angkatannya diatasku. Perginya naik bis. Seneng banget deh. Selain karena menghadiri pernikahan itu selalu membawa suasana bahagia, seneng juga karena bisa pakai dress, make up, dan high heels setelah lama nggak pernah dipake 😛 Cuma sayangnya bisnya kurang oke, jalannya lambat banget dan sempat mogok serta sempat dengan anehnya mampir ke Purwakarta. Tadi aku sama temen-temen cewek terharu gitu waktu liat video akad nikahnya. Maklum udah tingkat akhir nih, jadi agak galau juga 😛

Nah tadi tuh niatnya aku mau beli cairan pembersih softlens pas sebelum berangkat. Kan kumpulnya di gerbang depan kampus, dekat situ ada optik. Eh karena udah agak telat dan malu juga sih pake kostum heboh gitu ke optik, akhirnya nggak jadi. Mikirnya ntar aja kalo pulang, daripada bikin penuh tas juga. Eeeeh, gara-gara bisnya error, sampai di Bandung lagi baru habis maghrib. Udah tutup deh optiknya. Yaudah di rumah pas habis lepas softlens aku coba pencet-pencet botolnya ternyata udah bener-bener habis 😦 Untung temen kos ada yang punya, jadi bisa minta dikit, cukup buat merendam sepasang itu tadi.

Jadi, pesan moralnya adalah jangan menunda. Baik untuk urusan membeli cairan softlens maupun untuk menikah *loh* 😆

Dua minggu belakangan di kampusku lagi UAS. Makanya belakangan  jadi jarang posting juga. Wong tidur di kosan sendiri aja nggak tiap hari 😛 Kalo lagi mau ujian terutama yang susah, aku biasanya belajar bareng di kos temanku terus nginep sekalian. Wish me luck for my exams please 😉

Nah berkaitan dengan judul diatas, kenapa tinggal setengah ujian lagi? Emang ada ya setengah ujian? Jadi hari ini mestinya adalah hari terakhir aku ujian, meskipun di jurusanku sebagian masih ada yang ujian Senin. Tapi ujianku yang hari Rabu kemarin penyebabnya. Rabu kemarin aku ujian dua mata kuliah yang dua-duanya mata kuliah pilihan. Salah satunya itu mestinya dengar-dengar nggak pakai ujian, tahun lalu pun demikian. Jadi penilaiannya dari tugas dan presentasi. Kemarin juga nggak pakai UTS. Eh tapi denger-denger lagi karena tahun ini ada akreditasi, jadilah mata kuliah itu ada UAS. Agak panik dan kaget juga sih anak-anak yang ambil mata kuliah itu. Agak sedikit lah 😛

UAS-nya sih open book, dan boleh buka laptop juga. Agak tenang. Eh tapi ternyata pas ujiannya, ada satu atau dua soal gitu yang susah. Sampai wkatunya habis aku sih masih utak-atik. Kayaknya yang lain juga. Nah terus dosennya minta kami mengerjakan ulang nomer-nomer yang belum selesai, jadi PR gitu. Haha, makanya ini berarti ada setengah UAS lagi 😀 Baiklah baiklah mari mengerjakan…


December 2011
M T W T F S S
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031  

Blog Stats

  • 18,368 hits

Live Traffic

Flag Counter