Le Voyage de la Vie

Minimarket

Posted on: December 22, 2011

Dilihat-lihat, sekarang ini minimarket menjamur dimana-mana, terutama di kota besar. Kalau di kampung kayak rumahku sih masih jarang πŸ˜› Nah kali ini aku mau menulis tentang minimarket. Dulu waktu masih tinggal di rumah aku jarang belanja ke minimarket. Selain karena jaraknya agak jauh (bukan jarak jalan kaki), juga karena orang tuaku punya toko kecil yang selain jual seragam sekolah dan sepatu, juga jual kebutuhan sehari-hari. Istilahnya toko kelontong ya kalau tidak salah?

Begitu hidup merantau di Bandung, aku jadi sering ke minimarket. Terutama setelah kos di kosan yang sekarang. Di sebelah gang masuk ke kos ada minimarket, tidak jauh dari situ juga ada minimarket lain. Dua minimarket waralaba berhadap-hadapan malah. Kalau aku lihat, kebanyakan yang belanja di sana anak-anak seumuranku, mahasiswa sih sepertinya. Cukup wajar, daerah sini memang banyak rumah kos buat mahasiswa. Sebenarnya banyak juga toko-toko kelontong kecil di sekitar sini. Tapi biasanya mahasiswa-mahasiswa ini lebih milih belanja ke minimarket. Kenapa?

Kalau dari aku pribadi, aku memang lebih suka belanja di minimarket. Barang-barangnya lebih lengkap, jadi bisa belanja macam-macam sekalian di satu tempat. Mau belanja sabun cuci yang kemasan besar sekalian beli batere, telur, selotip, dan makanan kecil semua bisa dilakukan di satu tempat. Ini kombinasi belanjaannya random banget ya πŸ˜† Selain itu pilihan variannya juga lebih banyak. Misalnya wafer X kalau di toko kelontong cuma ada varian vanila dan cokelat, kalau di minimarket ada yang rasa stroberi,Β tiramisu, dan lainnya. Untuk minuman juga biasanya ada kulkas, jadi bisa langsung minum dingin. Apalagi kalau belanjanya bareng sama teman-teman, lebih praktis lagi karena semua bisa belanja apa yang dibutuhkan masing-masing di satu tempat. Faktor lain, kalau di minimarket kan barang-barangnya ada label harga, jadi bisa mengira-ngira dulu sebelum beli. Dan tidak usah repot-repot tanya. Agak malu juga sih kalo belanja di toko terus mau bandingin harga antara beberapa barang setipe terus harus tanya-tanya.

Dari sudut pandang konsumen, keberadaan minimarket memang memudahkan. Tapi bagaimana kalau dilihat dari sudut pandang pemilik usaha kecil dan mikro berupa toko kelontong? Minimarket merupakan saingan yang cukup berat. Aku bisa bilang ini ya karena lihat usaha orang tuaku sendiri. Bahkan di daerah rumahku yang minimarketnya cukup jauh, orang kadang lebih milih ke minimarket. Biasanya sekalian pergi keluar, mungkin sambil cari makan atau apa. Beberapa tahun belakangan untuk barang kebutuhan sehari-hari memang terasa lebih sepi lho. Kalau untuk seragam sekolah, sepatu, dan lain-lainnya sih memang masih cukup banyak dicari orang, daripada harus ke toko besar atau pusat grosir yang jauh. Kembali ke topik, untuk menyaingi minimarket misalnya dari segi jumlah dan jenis barang yang dijual ataupun luas toko, tentunya pemilik toko kelontong perlu modal besar. Yang mana belum tentu dimiliki oleh sebagian besar dari mereka. Sementara tanpa peningkatan tersebut, bisa jadi lama kelamaan akan kalah bersaing dengan minimarket dan bahkan bisa gulung tikar.

Jadi bagaimana solusinya? Perlu tidak sih ada regulasi yang mengatur keberadaan minimarket agar tidak mematikan usaha kecil dan mikro? Sejujurnya opiniku sendiri dalan hal ini agak terbagi. Di satu sisi aku pikir memang seharusnya ada regulasi untuk melindungi usaha kecil dan mikro. Di sisi lain, sebagai konsumen aku pribadi lebih nyaman belanja di minimarket. Jadi aku rasa regulasi yang paling memungkinkan adalah dengan menerapkan pajak atau semacamnya untuk usaha seperti minimarket, sehingga nantinya mau tidak mau harga yang ditawarkan minimarket akan sedikit lebih tinggi daripada harga barang di toko kelontong. Dengan begitu, konsumen bisa memilih mau belanja lebih hemat di toko kelontong atau belanja di minimarket dengan harga sedikit lebih mahal. Aku tidak tahu pasti apakah regulasi seperti ini sudah ada. Aku berharap sih usaha kecil dna mikro yang menjadi sandaran hidup banyak keluarga tidak mati karena arus modernisasi dan modal besar yang dimiliki pengusaha modern.

Advertisements

12 Responses to "Minimarket"

Ya, regulasi semacam convenience fee kalau belanja di minimarket gitu ya? Hmm, masuk akal sih πŸ™‚ Tapi aku nggak tahu apakah ini bakalan berpengaruh terlalu besar atau tidak.

Cuma ya aku mikirnya ini kan sebenarnya persaingan gitu kan ya; dan dunia ini selalu berubah. Mereka yang tidak bisa beradaptasi dengan perubahan ya akan “kalah” dalam seleksi alam, hmmm. Agak sadis mungkin memang, tapi ya mau bagaimana lagi πŸ™‚

iya sih, everything is changing
dan sejujurnya aku sendiri lebih suka belanja di minimarket…

2 tahun belakangan ini minimarket di surabaya semakin menggilaaaaaaa! mosok ada yang berjejer, cuma beda beberapa puluh meter aja? trs ada yang berhadap-hadapan?

pertama mulai menggila tuh sekitar tahun 2004an gitu deh, dimana minimarket mulai masuk kampung. padahal dulu kan katanya gak boleh masuk kampung tuh, krn bs mengganggu keeksis-an toko kelontong/ mracangan milik penduduk setempat.

iya biasanya kalo ada minimarket I******* bakal ada minimarket A******* berdiri di sebelah ato seberangnya πŸ˜†
ah iya istilahnya pracangan, lupa saya
tapi kalo jujur nih mam, lebih suka mana belanja di pracangan apa minimarket?

kasihan para pedagang kecil2an. tergusur mini marketnya, mbak 😦

yep, tapi di sisi lain ada konsumen tertentu yang butuh tempat belanja berbentuk minimarket begitu
makanya perlu regulasi yang melindungi pedagang kecil ini juga, mungkin dengan pajak minimarket atau minimarket tidak boleh didirikan di perkampungan

Tante juga lebih sreg belanja di minimarket dibandingkan toko kelontong Nin, entahlah kesannya barang-barang di minimarket itu lebih ‘segar dan baru’, sekalipun yang dibeli hanya shampoo atau sabun mandi…
Mungkin karena tempatnya nggak berdebu ya!

Regulasi harga mungkin bisa diterapkan, walau hasilnya pasti tidak seperti yang diharapkan. Orang-orang jaman sekarang kayaknya berprinsip, lebih baik belanja mahalan dikit tapi nyaman, daripada beli barang murah tapi lebih sedikit pilihan πŸ™‚

ya mungkin akan ada sebagian orang lain yang lebih mementingkan harga, jadi minimarket dan warung kelontong akan punya segmen pasar berbeda
meskipun kalau keinginan pribadi sih ya belanja nyaman tapi murah πŸ˜›

Cil, rasanya di Surabaya masih jarang ya, minimarket. Bener gak sih? Di Bandung sini Circle K merajalela. Alfamart dan Yomart-pun begitu.

Di Surabaya paling banter indomaret. Itupun gak banyak2 amat, ya ‘kan? πŸ™‚

kalo di surabaya yang banyak minimarket I itu dan saingannya, A πŸ˜›
kalo surabayanya nggak terlalu merhatiin, tapi kalo pinggiran sby sampai daerah sepanjang yang udah masuk sidoarjo, minimarket lumayan banyak sih
dan kalo sekitar rumah saya,dua minimarket itu selalu ada bersamaan, kalo nggak sebrangan ya jarak satu atau dua bangunan gitu

aku lebih suka seandainya para pemilik toko kelontong bisa mengembangkan usahanya jadi mini market. hehe. biar harga barang2nya bisa sama murah. walau minimarket tapi nggak perlu lah yang sampe bikin merek toko atau dibikin franchise. cukup dibikin tempat yang bagus dan barang2nya lebih variatif aja.

dibikin lebih menarik gitu ya? ide yang bagus

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: