Le Voyage de la Vie

Archive for January 2012

Aku sebenernya nggak terlalu pelupa sih, kalau soal kerjaan, jadwal, janji, atau bahkan pelajaran, nggak pikun-pikun amat kok. Tapi kalo udah soal ketinggalan barang, cukup juara sih memang. Dari pertama kali nginep di kosnya Nonop-Dewi, SELALU adaaa aja barang yang ketinggalan. Kalau diurutkan, yang pernah ketinggalan adalah: map berisi duit sejuta, tempat minum, celana bobok, sampai kacamata ๐Ÿ˜†

Dan ternyata, penyakit ketinggalan ini bukan cuma diderita olehku lho. Waktu Tirandan, temenku yang dari Surabaya nginep, barang-barangnya ketinggalan juga tuh. Satu set charger. Terus soal ketinggalan ini juga ada cerita saling ketinggalan antara aku dan temenku, sebut saja A ๐Ÿ˜› Jadi entah gimana ceritanya, suatu hari si A ini SMS aku :”Flash disk kamu di tasku lho”.ย  Nah kami berdua sama-sama nggak tau gimana ceritanya itu FD bisa ada di tas dia. Mana sekarang ilang lagi deh FD-nya. Dan dia bilang kalungin aja biar ga ilang -___-” Balik ke cerita, setelah aku ngambil FD, aku sempat dianter pulang sama dia. Pas keluar parkiran dia minta aku nunjukin STNK dia ke tukang parkir. Dan jadilah STNK itu kebawa aku karena aku lupa kasih ke dia dan dia juga lupa minta.

Wew, gimana ya caranya meningkatkan daya ingat akan barang-barang?

Advertisements

Hello, fellow netizens! ๐Ÿ˜€

Belakangan jadi jarang nulis dan blogwalkingย gara-gara si laptop nih. Iya laptop yang sekarang dipake ini, laptop yang udah menemani dari tahun pertama kuliah. Setelah sejak sekitar setaun lalu baterenya membego parah, nggak bisa lagi nyala tanpa sumber listrik dari luar, belakangan layarnya ikut berulah.

Layar laptopku sering mati lampunya, jadi kalau dilihat tuh masih ada tampilan di layarnya tapi gelap. Ini katanya yang bermasalah kalau nggak lampunya ya inverternya. Kalo ga salah pertama terjadi Desember kemarin, wkatu lagi heboh tugas besar akhir semester. Waktu aku bawa ke tempat servis *yang mana lokasinya naik gunung turuni lembah, mana wkatu itu ngangkot dan jalan kaki jauh*, kata masnya dipake dulu aja, toh jarang-jarang terjadi. Sayang kalau dibongkar. Pas liburan sih ga ada masalah emmang.

Nah, hari Jumat kemarin kan aku ada deadline lomba. Bikin makalah, berempat. Sama Dewi, Nonop, dan Ilma. Ilma laptopnya baruuuu banget ganti, setelah yang sebelumnya tewas di akhir semester kemaren. Laptop lamanya sama merk dan usianya dengan laptopku. Laptopnya Nonop beberapa kali hang, kalo laptopnya Dewi nggak bisa Excel. Hahaha, pada nggak bener ya ๐Ÿ˜› Udah kondisinya begitu, laptopku memilih untuk berulah kembali. Layarnya bolak-balik mati lagi. Dan kali ini susah banget hidup lagi meski uda restart. Hari Kamis masih kerja dengan tiga laptop. Kamis malem itu niatnya ngerjain makalah tanpa nginep tapi akhirnya jadi acara nginep pertama semester ini ๐Ÿ˜† Hari Jumatnya, karena masih banyak yang belum selesai, aku akhirnya heboh cari pinjeman laptop. Sayangnya si teman kosna yang baik hati, yang biasanya minjemin laptop buat ujian ato presentasi, lagi pulang ke rumah. Hemmmm. Untungnya ada yang baik hati mengambilkan laptopnya ke kos di waktu istirahat sebelum Jumatan. Wah dapat pinjaman laptop baru cling-cling ๐Ÿ˜€ Makasih Aldi ๐Ÿ™‚ Takut juga sih pas bawa pulang laptopnya, gara-gara habis ada cerita dari teman yang dijambret siang itu *tapi untungnya nggak berhasil diambil tasnya*.

Hari Sabtu, aku ke tempat servis laptop. Ya yang naik gunung turuni lembah itu. Tapi udah kapok kesana ngangkot+jalan, jadi minta tolong dianter juga. Nah nah, bagian fail-ya adalah ketika di sana, laptopku bisa nyala dengan cerah-ceria-sehat-bahagia-sentosa -___-” Agak-agak malu gitu deh sama yang udah minjemin laptop dan nganter servis. Terus kata mas servisnya, kalo mati lagi coba direfresh aja layarnya, ntar kalo ga bisa baru diservis. Oke mas, semoga laptop saya ga rusak beneran deh yaaa, seenggaknya sampe semester ini selesai huhuhu. Anyway, ada ide nggak nantinya ganti laptop apa? Yang enteng tapi oke tapi nggak mahal-mahal amat juga ๐Ÿ˜€

Yak, seri kuliner lagi ๐Ÿ˜€

Dari hari Minggu sampai Kamis pagi, ada teman sekelas aku waktu SMA nginep di kosku. Dia kuliah di Unair dan lagi libur. Jadilah dia kami (aku dan teman-teman dia yang lain yang kuliah di Bandung) ngajak dia jalan-jalan terutama makan ๐Ÿ˜€ Kemarin tuh sempat ke Madame Sari (restonya Kartika Sari Dago), Double Steak, Sushi Boon, sama ke Punclut. Nah kali ini aku mau nulis soal Double Steak.

Double Steak ini bentuknya semi-outdoor, letaknya di Jalan Jawa, nggak jauh dari SMA 3 dan SMA 5 Bandung. Pertama kali kesini diajak sama Risa dan ibunyaย ๐Ÿ˜€ Terus setelah itu makan disana lagi karena kosan temenku Nonop dulu terletak sekitar dua rumah di sebelah Double Steak. Tempat ini salah satu tempat makan favoritku, enak dan harganya terjangkau. Kisaran harganya sekitar 20 ribuan, dan minumannya rata-rata dibawah 10 ribu. Menu favoritku disini tentu saja Wiener Schnitzel, yummy banget deh! Nih fotonya. Jelek fotonya karena kalo malem lampunya nggak terang, jadi fotonya pake flash, susah fokus deh.

Menu yang ada di sini ada bermacam-macam steak, mulai sirloin, tenderloin, mixed, fish, wiener schitzel, sampai sup dan menu lain seperti fries. Ada tiga pilihan saus untuk steak yaitu barbeque, black pepper, dan mushroom.ย Minumannya ada yang panas dan ada yang dingin: teh, lemon, macem-macem kopi, milkshakeย juga ada. Suasananya cukup menyenangkan lah. Meskipun kadang-kadang rame banget sehingga harus nunggu meja kosong. Untungnya kemarin nggak.

Secara keseluruhan, aku merekomendasikan tempat ini buat makan steakย yang enak (memang bukan kelas steak mewah sih) dengan harga terjangkau. Yaa, pas buat mahasiswa deh ๐Ÿ˜‰ tapi keluarga juga bisa sih makan di sini. Oya kemarin waktu kesini kan aku dibonceng temanku, dia nggak tahu jalannya. Pas lewat jalan Kalimantan, mestinya kan habis itu belok kiri, tempatnya di kanan jalan. Aku udah kebayang banget, tapi aku malah bilang ke dia “belok kanan, tempatnya di kiri jalan” ๐Ÿ˜† Ya maap deh ๐Ÿ˜›

Halo semua! ๐Ÿ˜€ Lama tak jumpa. Maaf lama nggak menulis disini ataupun kunjung-kunjung ke blog lain dan segala aktivitas dunia per-blog-an lain ๐Ÿ˜ฅ Libur kuliah kemarin aku pulang ke rumah di Sidoarjo, yang mana berarti juga meninggalkan koneksi internet di kosan. Kalau ada beberapa tulisan di akhir Desember dan awal Januari kemarin, semua itu adalah scheduled post. Sesungguhnya liburan kemarin ini agak-agak gimana gitu mau pulang, banyak tanggungan dan kewajiban di Bandung, salah satunya soal tugas akhir heuuu. Tapi butuh pulang juga, terutama sekali buat ngurus e-KTP.

Pulang kemarin sekitar dua minggu kurang sedikit. Selain ngurus e-KTP, juga sowan ke rumah nenek, bantuin om pindahan rumah, cari jam tangan yang bener, restockย pakaian, dan sekali ketemu teman-teman SMA. Yang bantu-bantu pindahan itu sebenernya nggak banyak bantu juga sih ๐Ÿ˜› Omku ini kan punya anak, yang merupakan sepupu cewek yang umurnya paling dekat sama aku. Sekarang kuliah di Malang. Kebetulan lagi sama-sama di rumah, jadilah melepas kangen ceritanya. Mestinya dia mengepak barang-barang buat pindahan rumah dan mestinya aku bantu-bantu. Tapi berhubung kehabisan kardus, ditambah hujan deras dan nggak punya uang *dompetku ketinggalan di rumah dan dia juga nggak ada uang cash di rumah* jadilah kami plus dua adeknya dia yang masih SD dan SMP main monopoli ๐Ÿ˜† Nostalgia banget deh.

Kalau yang cari jam tangan itu karena selama ini aku kan pakai jam tangan dikasih orang, oleh-oleh gitu. Kalau udah nggak bisa jalan ya ganti jam oleh-oleh lain. Tapi setelah yang terakhir putus rantainya, aku kepikir buat punya jam yang reliable. Setelah mengajukan petisi ๐Ÿ˜› akhirnya dibolehkan sama ortu dengan syarat belinya pas di rumah aja biar nggak salah milih. Maksudnya jamnya nggak bagus-bagus amat tapi kemahaln gitu. Dan ternyata tetanggaku ada yang kerja di toko jam, teknisi atau apa sih namanya. Karena tetangganya bapak itu, aku jadi dapat diskon gede pas beli jamnya ๐Ÿ˜€ asyiiik. Numpang promo, tokonya di TC Surabaya, bekas Siola itu lho. Habis beli jam itu ada traktiran teman SMA di TP yey.

Balik ke Bandung ini sebenernya masih lama dari masuk kuliah, tapi udah banyak urusan. Mulai bayar SPP yang tidak autodebet lagi, perwalian, dan menyelesaikan proyek buat lomba. Aku lagi ikut dua lomba, yang satu diadakan anak UI, tentang desain produk kimia dan kelompokku udah lolos selksi tahap pertama. Sekarang lagi bikin makalah. Satu lagi lomba penyelesaian problem industri, diadakan anak ITB sendiri. Mohon doanya yaaa ๐Ÿ˜€

Tags:

Historical fictions are based on real historical events, places, and/or persons with fictional characterization and details. It may closely resembles its actual counterpart or deviated broadly. It includes films, novels, plays, and other media. I enjoy historical fictions so much, especially historical novels. Some novels that I have finished are:

  • Arok Dedes by Pramoedya Ananta Toer. This book is about Ken Dedes and Ken Arok of Singasari. I haven’t finished it yet, but I like its storyline and language so much.
  • Pulau Buru Tetralogy by Pramoedya Ananta Toer. It consists of four books; Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Jejak ย Langkah, and Rumah Kaca. It is set in Indonesian National Awakening era. I admire how a local boy who got proper Dutch education saw the reality around him and started to use newspaper to build opinions against Dutch government.
  • The Lady Elizabeth by Alison Weir. It is based on the life of Queen Elizabeth I from her childhood until she ascended the throne. I got lots of insights about Englosh life in Tudor era from this novel.
  • The Queen’s Governess by Karen Harper. It is set in Tudor era also, but from Elizabeth’s governess’ (Kat Champernowne’s) point of view. It covers longer time span than The Lady Elizabeth; started from Anne Boleyn’s era to Kat’s death.
  • Scarlett by Alexandra Ripley. It is the sequel of legendary Gone With The Wind. Set in America and Ireland, it beautifully told Scarlett’s story. I don’t really know whether it can be categorized as a historical novel but I think it is.
  • Becoming Marie Antoinette. I forget who’s the author of this book. As indicated by its title, this book recounts Marie Antoinette’s life, from her childhood as an Austrian archduchess Maria Antonia to her teenage life and subsequent marriage to French dauphin Louis. This book is the first of a series and its successors haven’t been published yet.

Those are historical novels I have read recently. I think I learn much from those novels. Of course as I have stated above, a hostorical novel is not an actual recount of events. So, I often search about the real historical facts after read a novel and compare them. And I can remember those historical things better when I have read it in a novel. Maybe it is because there is an emotional attachment that I get when I read a novel. It is something I could not get from history books of my school days ๐Ÿ˜› In my opinion, a historical fiction can serve both as entertainment and educational source, but it should not regarded as a real recount of history.

P.S: I haven’t written in English for a long time and I do know that the quality my writing has been declined much ๐Ÿ˜ฆ Yeah, I have to practice again.