Le Voyage de la Vie

Jalan-Jalan Sendiri di Tokyo, Siapa Takut

Posted on: March 16, 2017

Musim panas tahun lalu, aku jalan-jalan ke Tokyo sendirian. Solo traveling. Kenapa sendirian? Karena sekitar 2 bulan sebelumnya, aku dapat info kalau bulan Mei aku akan ada tugas kerja di site, yang berarti setelahnya akan dapat libur tanpa potong jatah cuti tahunan. Kebetulan di tanggal liburnya ada konser solo penyanyi favoritku di dekat Tokyo. Tapi tanya ke teman-teman, ternyata mulai dari teman kuliah, teman kerja, sampai teman-teman jalan-jalan ke Seoul sebelumnya tidak ada yang bisa pergi di awal Juni itu. Aku belum pernah jalan-jalan ke luar kota atau luar negeri sendirian sebelumnya, paling pernah naik pesawat atau kereta sendiri kalau pulang kampung atau urusan pekerjaan. Setelah tanya ke beberapa teman dan cari info, sepertinya Tokyo cukup aman dan, jadilah nekat beli tiket dan mulai urus visa. Oya, aku tidak bisa berbahasa Jepang dan baca tulisan Jepang sama sekali lho, jadi memang nekat pergi sendirian kesana. Seru banget jalan-jalan sendirian di Tokyo, favoritku adalah taman-taman dengan pemandangan yang cantik sekali.

Shinjuku Gyoen 1.jpg

Shinjuku Gyoen

Ke Jepang sekarang bisa bebas visa kalau paspor sudah e-paspor, tapi tetap harus mendaftar di kedutaan. Kalau belum e-paspor, mengurus visa di konsulat jenderal di beberapa kota di Indonesia sesuai KTP. Misalnya untuk penduduk Jawa Timur, mengurus visa di Konjen Jepang Surabaya, tidak bisa di Jakarta. Aku mengurus visa melalui agen.

Sebelumnya kalau jalan-jalan ke luar negeri, aku naik budget airline, tapi kemarin dapat harga yang lumayan untuk full service airline, jadilah naik penerbangan langsung dari Cengkareng ke Haneda. Berangkat hampir tengah malam, dapat sarapan enak di pesawat, dan mendarat pagi sekitar pukul 08.30. Di Haneda, aku beli kartu Pasmo untuk naik kereta. Karena rencanaku selama 5 hari di Tokyo dan sekitarnya saja, jadi tidak beli JR Pass yang lebih hemat kalau untuk keluar kota naik kereta JR.

Jpeg

Sarapan di pesawat Garuda

Tujuan pertama adalah tempat menginap, Irori Nihonbashi Hostel & Kitchen. Tempatnya sangat gampang dijangkau, cukup sekali naik kereta dari Haneda. Hostel ini terletak diantara 3 stasiun kereta yang beda line, jadi gampang kalau mau kemana-mana. Di Tokyo sendiri ada 3 macam kereta dalam kota: JR, Tokyo Metro, dan Toei. Masing-masing punya banyak line. Cukup membingungkan kalau baru pertama kali, jadi sebelum pergi aku membuat rencana perjalanan lengkap dengan stasiun dan line yang harus diambil, berikut perkiraan tarif kereta yang bisa dicek di situs Hyperdia.

Karena belum bisa check-in, aku titip koper saja di hostel dan langsung menuju Edo Tokyo Museum dengan jalan kaki. Museum ini adalah museum sejarah zaman Edo. Ada banyak sekali diorama dan replica menarik yang menggambarkan kehidupan Tokyo pada zaman tersebut, mulai dari suasana kota, contoh rumah para shogun, rumah orang biasa, kuil, sampai kios sushi. Ada volunteer guide yang menjelaskan tentang museum dalam Bahasa Inggris. Ini adalah salah satu tujuan favorit aku karena diorama dan replika dibuat dengan sangat detail seperti aslinya. Selain itu juga menarik untuk tempat berfoto.

Jpeg

Replika kios sushi di Edo Tokyo Museum

Jpeg

Diorama mansion Jepang di Edo Tokyo Museum

Tujuan selanjutnya adalah National Museum yang terletak di daerah Ueno, bersebelahan dengan Ueno Park. Museumnya jauh lebih besar, isinya seperti museum kebanyakan, dengan berbagai tema di tiap lantai.

Jpeg

Taman di National Museum Ueno

Setelah itu, aku lanjut pergi ke Asakusa. Kuil Sensoji yang ada di Asakusa merupakan salah satu tujuan wisata popular. Untuk menuju ke kuil, dari stasiun lewat jalanan Nakamise terlebih dahulu, dimana ada banyak kios yang menjual souvenir khas Jepang. Harganya bersahabat, lebih murah darpada di toko-toko di daerah lain walaupun barangnya persis sama. Di dekat kuil Sensoji ada tempat makan ramen yang halal, namanya Naritaya Ramen. Aku makan malam di situ sekalian menumpang sholat. Enaknya jalan-jalan waktu musim panas begini, sampai jam 18.30 pun masih terang.

Jpeg

Sensoji Temple Asakusa

Nakamise Street.jpg

Nakamise Street

Jpeg

Halam ramen Naritaya

Karena semalam tidur di pesawat, aku sudah capek, jadi dari Asakusa langsung kembali ke hostel. Aku pesan kamar tipe asrama, jadi yang ada di bayangan aku satu kamar besar dengan banyak tempat tidur. Ternyata di ruangan besar itu disekat-sekat lagi dengan kain dan tirai, beda dengan hostel-hostel yang pernah aku inapi. Jadi di ruang tersekat tersebut ada tempat tidur single, meja kecil dengan lampu, dan area kosong yang bisa untuk meletakkan koper dan sholat. Tidak perlu kuatir kalau mau tidur dengan lampu menyala atau mati karena tiap sekat ruangan punya lampu sendiri-sendiri, nyaman sekali meskipun harganya tidak terlalau mahal untuk ukuran Tokyo, 2800 yen per malam.

Jpeg

Kamar di Irori Nihonbashi Hostel & Kitchen

Jpeg

Sarapan ikan bakar di Irori Nihonbashi

Besoknya adalah hari yang paling sibuk. Setelah sarapan ikan bakar di hostel seharga 500 yen yang bisa dipesan terpisah dari harga kamar, aku menuju ke kuil Yasukuni. Masih sepi karena masih pagi. Setelah berfoto-foto di kuil dan taman di komplek kuil, aku menuju Koishikawa Korakuen, salah satu taman tercantik di Tokyo. Meski sedang bukan musim sakura, taman-taman di Tokyo cantiknya luar biasa. Ada bunga-bunga lain, kolam, jembatan, dan pepohonan rindang yang menyejukkan mata di tengah kota metropolitan dengan gedung-gedung tinggi. Koishikawa Korakuen tidak terlalu luas bila dibandingkan dengan taman-taman lain, tetapi pemandangannya indah sekali. Karena jalan-jalan sendirian, kalau ingin foto biasanya aku minta tolong turis lain atau pakai tongsis. Di taman tersebut ada beberapa pengunjung yang melukis bunga.

Koishikawa Korakuen 3.jpg

Koishikawa Korakuen

Dari Koishikawa Korakuen, aku menuju Ginza dengan lewat Tokyo Dome dulu sebelum ke stasiun. Ginza adalah daerah surga belanja yang dipenuhi tok-toko merk kelas dunia. Mungkin seperti Orchard Road di Singapura. Dari Ginza, aku naik kereta Yurikamome menuju Odaiba. Keretanya bukan bawah tanah, jadi bisa melihat pemandangan laut saat kereta menyeberangi jembatan. Meskipun tidak bisa berbahasa Jepang, tidak sulit untuk menggunakan transportasi umum di Tokyo karena tersedia petunjuk arah dan petunjuk stasiun dengan tulisan latin.

Tokyo Dome.jpg

Tokyo Dome

Di Odaiba, tujuan utama aku adalah foto di depan model robot Gundam skala 1:1, salah satu anime favorit jaman masih SMP. Letaknya di Diver City, sebuah mall yang juga memiliki museum Gundam di lantai atas. Puas mengunjungi museum dan berfoto dengan karakter favorit sambal memakai kostum jaket pilot Gundam, aku menuju Miraikan National Museum of Emerging Science, masih di area Odaiba.Disana aku dibuat terkagum-kagum dengan berbagai display teknologi canggih. Sepertinya anak usia sekolah juga akan senang mengunjungi museum ini.

Gundam Diver City Tokyo Odaiba.jpg

Gundam 1:1 di Diver City

Miraikan Emerging Science Museum.jpg

Miraikan Emerging Science Museum

Puas jalan-jalan, aku buru-buru menuju stasiun karena sudah sore dan aku punya tiket Disney Sea After 6 pm Pass. Enaknya jalan-jalan sendirian, bisa dapat banyak tempat dalam sehari karena pergerakan bisa lebih lincah, tidak perlu saling menunggu. Makan juga bisa cepat, beli dari convenience store atau bawa bekal lalu duduk sebentar di taman untuk makan. Karena sampai di stasiun Maihama di dekat Disney Resort masih lama sebelum jam 6 sore, aku berjalan kaki menuju Disney Sea, sekalian menikmati pemandangan. Sengaja pilih tiket sore karena harganya jauh lebih hemat, lagipula aku bukan penikmat roller coaster. Sambil menunggu jam 6 di Disney Sea, aku bertanya di bagian informasi dimana ada tempat yang bisa untuk sholat. Petugas informasinya baik sekali, aku diantar ke ruangan kosong di area kantor dan bisa aku pakai untuk sholat, diberi waktu 15-20 menit. Beberapa saat sebelum jam 6, aku mulai antri masuk. Berbeda dengan Disneyland yang lebih ditujukan untuk anak-anak, Disney Sea lebih seru untuk remaja dan dewasa. Aku naik kereta api dan kapal keliling Disney Sea. Selain itu sempat melihat pertunjukan Little Mermaid dan Aladdin juga. Enaknya akalu tiket sore, beberapa atraksi yang di siang hari harus antri lama, di malam hari tidak perlu terlalu antri. Kebetulan di musim panas itu ada event khusus untuk ulang tahun Disney Resort, jadi tepat pukul 8 malam, ada pertunjukan utama dengan berbagai atraksi, light show, music, dan tarian di atas air. Seru sekali. Aku benar-benar senang menikmati Disney Sea sampai jam tutup pukul 10 malam. Karena sudah lelah, untuk kembali ke stasiun Maihama, aku naik kereta Disney Resort line yang imut sekali dengan interior berbagai karakter Disney.

Jpeg

Disney Sea

Di hari ketiga, aku jalan-jalan di daerah gaul Tokyo. Paginya aku jalan-jalan di taman dulu, kali ini adalah Imperial East Garden. Puas jalan-jalan, aku belanja titipan sepatu di daerah Roppongi yang penuh dengan toko-toko bermerk. Dari Roppongi, aku piknik di taman Shinjuku Gyoen, yang lebih besar dan lebih banyak area. Banyak juga keluarga dan turis yang piknik disana. Puas sekali mengambil banyak foto-foto taman yang cantik berwarna-warni.

Imperial East Garden.jpg

Imperial East Garden

Shinjuku Gyoen 2.jpg

Shinjuku Gyoen

Dari Shinjuku, aku lanjut ke Shibuya, bertemu dengan teman kuliah yang melanjutkan studi di Tokyo. Kami jalan-jalan di pertokoan Shibuya dan Harajuku. Barang-barang dan pakaian disana memang lucu-lucu tapi harganya relative mahal. Kaos kaki berbagai karakter yang di Seoul seharga sekitar 10 ribu rupiah, di Tokyo bisa sekitar 30 ribu rupiah. Sampai akhirnya temanku menunjukkan Daiso, toko empat lantai serba 100 yen (sekitar 12 ribu rupiah), dan aku kalap berbelanja berbagai pernak-pernik lucu dan makanan untuk oleh-oleh. Selain Daiso, toko 100 yen lain yang bisa dikunjungi adalah Seria. Malamnya aku mampir ke Shinjuku lagi sebelum pulang, tepatnya ke Tokyo Metro Government Tower. Untuk naik ke menara ini gratis. Kalau Tokyo Tower dan Tokyo Skytree ada tiket masuknya. Menarik sekali pemandangan kota Tokyo di malam hari dari ketinggian, benar-benar kota metropolitan penuh bangunan tinggi dengan lampu-lampu terang.

Tempura.jpg

Makan tempura di Harajuku

view from Tokyo Metro Govt Tower.jpg

Pemandangan dari atas Tokyo Metro Government Tower

Hari keempat adalah acara utamaku di Tokyo, menonton konser di Makuhari Messe, Chiba, sebelah selatan Tokyo. Sejak di dalam kereta, aku sudah melihat beberapa orang membawa tas dengan tulisan acara konsernya. Wah, sesame fans. Aku juga janjian dengan beberapa fans dari Jepang dan negara lain yang aku kenal lewat Twitter. Sambil menunggu, aku bertukar cendera mata dengan mereka. Karena hari terakhir dari rangkaian tur, jadi konsernya lebih lama dari jadwal, senang sekali bisa nonton lebih lama. Pulangnya sudah benar-benar capek, tapi karena besoknya sudah mulai puasa, aku mampir di convenience store untuk beli makanan buat sahur.

Kyuhyun Knick Knack Concert.jpg

Kyuhyun Japan Tour Concert Knick Knack

Puasa waktu musim panas itu panjang sekali, pukul 2.30 pagi sudah subuh. Karena kebanyakan tujuan sudah dikunjungi, paginya aku santai di hostel untuk menghemat energy. Siangnya aku jalan-jalan di Akihabara. Di dekat stasiun, aku menemukan toko yang menjual mainan dan action figure dengan harga miring, sekitar 100-500 yen saja. Aku sampai tidak keluar-keluar dari toko itu, memilih-milih berbagai boneka dan gantungan kunci karakter yang lucu-lucu. Setelah itu aku berjalan-jalan di daerah Akihabara, dan lanjut ke Ikebukuro, daerah pertokoan juga. Sambil menunggu maghrib, sorenya aku ke kuil Meiji Jingu. Dari stasiun menuju ke kuil jalannya dipenuhi pepohonan rindang di kanan-kiri jalan, udaranya segar. Di kuil tersebut ada banyak pohon bonsai. Setelah dari kuil, karena di daerah Harajuku, aku mampir lagi ke toko 100 yen, masih belum puas belanja. Menjelang maghrib, aku menuju masjid Tokyo Camii yang ada di daerah barat kota Tokyo. Ternyata disana ada buka bersama, dan sempat kenalan juga dengan beberapa orang Indonesia. Banyak juga muslim di Tokyo.

Tokyo Camii Mosque buka bersama.jpg

Buka bersama di masjid Tokyo Camii

Tokyo Camii Mosque.jpg

Masjid Tokyo Camii

Demikianlah 5 hari aku jalan-jalan sendirian di Tokyo. Memang aman dan mudah, dengan tersedianya berbagai petunjuk arah dan transportasi. Wifi gratis banyak tersedia di stasiun dan tempat umum, beberapa layanan wifi gratis seperti FLETS perlu daftar dulu di tempat asal sebelum sampai di Jepang. Dan ternyata Tokyo tidak semahal bayangan, bisa disiasati dengan makan di tempat-tempat yang hemat, beli sushi dan onigiri di convenience store, dan belanja di toko 100 yen.

Advertisements

5 Responses to "Jalan-Jalan Sendiri di Tokyo, Siapa Takut"

Mbak boleh tau contact personnya?aq mau nanya2 soal tokyo ni 😀

saya email ya ke email yahoo mbak

Iya mbak
Matu nuwun mbak

Mbak cari hotelny via airbnbkah?

bukan, lewat expedia dan booking.com karena sendirian, kalau airbnb kebanyakan apartemen gitu jadi enak buat rame-rame

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: