Le Voyage de la Vie

Archive for the ‘Cuisine’ Category

Musim panas tahun lalu, aku jalan-jalan ke Tokyo sendirian. Solo traveling. Kenapa sendirian? Karena sekitar 2 bulan sebelumnya, aku dapat info kalau bulan Mei aku akan ada tugas kerja di site, yang berarti setelahnya akan dapat libur tanpa potong jatah cuti tahunan. Kebetulan di tanggal liburnya ada konser solo penyanyi favoritku di dekat Tokyo. Tapi tanya ke teman-teman, ternyata mulai dari teman kuliah, teman kerja, sampai teman-teman jalan-jalan ke Seoul sebelumnya tidak ada yang bisa pergi di awal Juni itu. Aku belum pernah jalan-jalan ke luar kota atau luar negeri sendirian sebelumnya, paling pernah naik pesawat atau kereta sendiri kalau pulang kampung atau urusan pekerjaan. Setelah tanya ke beberapa teman dan cari info, sepertinya Tokyo cukup aman dan, jadilah nekat beli tiket dan mulai urus visa. Oya, aku tidak bisa berbahasa Jepang dan baca tulisan Jepang sama sekali lho, jadi memang nekat pergi sendirian kesana. Seru banget jalan-jalan sendirian di Tokyo, favoritku adalah taman-taman dengan pemandangan yang cantik sekali.

Shinjuku Gyoen 1.jpg

Shinjuku Gyoen

Read the rest of this entry »

Sejak masih kerja di tempat sebelumnya, aku sudah berencana untuk jalan-jalan ke Korea atau Jepang. Berhubung pindah kerja, rencana itu harus tertunda sampai aku dapat jatah cuti. Aku mulai dapat jatah cuti per Desember 2015, tapi berhubung Desember musim liburan, aku memutuskan untuk ke Seoul di bulan Januari 2016 supaya tidak saat peak season dimana harga penerbangan dan penginapan jadi mahal, sekalian merasakan musim dingin untuk pertama kalinya.

Yeouido Hangang Park

Di Yeouido Hangang Park, dingin meski sudah pakai baju dan jaket berlapis-lapis

Read the rest of this entry »

Setelah dari KLCC, aku dan Ilma jalan kaki ke Bukit Bintang. Bentuk jalannya Walkway, di atas seperti jembatan penyeberangan, tapi panjang dan tertutup. Lumayan juga, sekitar 15 menit mungkin ya. Bukit Bintang isinya mall dan mall. Karena sudah sore dan kami lapar (lagi 😀 ) akhirnya kami mulai cari makan. Eh tiba-tiba hujan, jadilah kami berteduh dulu di Lot 10, salah satu mall yang udah cukup lama. Di basement mall ini ada foodcourt yang cukup terkenal, Lot 10 Hutong. Tadinya mau coba, tapi ternyata semuanya makanan non-halal. Setelah hujan berhenti, kami jalan lagi, lewat Jalan Alor. Jalan Alor ini juga pusat Chinese food, dan lagi-lagi gagal nemu makanan halal yang menarik 😦 Bosen juga kalau makanan India lagi, siangnya sudah makan nasi Kandar.

Petaling Street, photo by Ilma

Jalan Alor, photo by Ilma

Read the rest of this entry »

Ups, sudah 3 tahun ternyata aku nggak nulis disini 😀
Setelah lulus kuliah tahun 2012, aku kerja di Jawa Timur, seminggu sekali bisa pulang ke rumah. Di rumah dan di tempat kos nggak ada internet kabel/wifi, jadilah kegiatan ngeblog lama-lama terlupakan. Sejak sekitar setahun lalu aku pindah ke Jakarta, di kos ada internet sih, tapi sudah terlanjur kehilangan motivasi nulis. Hehehe maaf~
Anyway, kali ini ada yang aku pengen ceritakan. Minggu lalu aku liburan super hemat ke Kuala Lumpur. Paket penerbangan pulang pergi dan hotel (bintang 3, untuk 2 malam, 2 orang sekamar) dapat promo seharga Rp 600.000. Pengeluaran selama disana total RM 220 (sekitar Rp 725.000). Ditambah ojek, bus, dan taksi dari kos ke bandara dan bandara ke kos, ya sekitar Rp 1,5 juta lah 😀

Read the rest of this entry »

Braga Permai

Posted on: May 7, 2012

Kali ini perjalanan kuliner mampir ke Braga Permai, resto di Jalan Braga, Bandung yang dulunya bernama Maison Borgerijen. Yap, ini resto ala jaman kolonial Belanda gitu. Seperti kebanyakan bangunan di daerah Braga, bangunan resto ini dan interiornya bergaya kolonial. Malah katanya dulu bangunannya lebih megah lagi. Sayangnya karena kesana malam jadi foto eksteriornya tidak ada.

Hmm, mulai darimana ya? Seperti beberapa kesempatan sebelumnya, acara liputan kuliner 😎 kali ini ditemani oleh si anak elektro. Kali ini dia yang ngajak duluan lho 😳 Mungkin ini bakal terakhir kali makan bareng di luar *warung pecel lele dan kantin kampus tidak termasuk* mengingat akhir Mei dia akan magang di luar pulau sampai awal Agustus dan aku berjuang biar bisa wisuda bulan Juli. Singkat cerita, kami janjiannya habis magrib. Eh pas siap-siap tiba-tiba hujan. Doeng. Masa kagak jadi 😐 Untungnya hujannya cuma sekitar 10-15 menit gitu.

Berhubung habis hujan dan maish agak-agak gerimis, kami pilih duduk di dalam. Sebenernya di luar juga ada, pake payung-payung gitu tempat duduknya. Dulu waktu kesana mengantar mahasiswa-mahasiswa dari Singapura yang lagi ikut smeinar di ITB, kami duduknya di bagian luar. Karena tujuan utama kesini adalah buat dessert jadi makan beratnya pesan satu menu aja. Nah disini itu di tiap meja udah ada piring, sendok, garpu buat tiap orang. Pesenannya datang di piring silver gede. Cukup lah buat dimakan berdua. Klao datang rame-rame sih mending pesan beberapa macam makanan buat dimakan bareng-bareng daripada pesen satu-satu. Kami pesennya special fried noodle. Ini dia, pas udah dimakan setengahnya. Baru ingat belum difoto sih 😆

Pas udah mau abis aku baru nyadar dong kalo ada udang di situ 😯 Mengingat beberapa kali terakhir setelah  makan bareng si anak elektro dengan menu seafood aku jadi bentol-bentol alergi, panik dong ya aku. Untungnya enggak sih. Fiuh. Terus habis itu yang ditunggu-tunggu, es krim 😀 Es krim disini macem-macem, harganya juga nggak mahal-mahal amat untuk ukuran es krim seenak itu. Menurutku lebih enak jauh daripada di I Scream for Ice Cream. Kalo nggak salah ini namanya Exotica. Di atasnya ada whipped cream dan choco chip. Dilengkapi sama stroberi, peach, dan sirup kelapa. Teksturnya lembut dan seger banget. ENAK DEH :mrgreen: Aku kasih nilai 10 dari 10 buat es krimnya.

Oya di sini juga jual cake dan macem-macem cokelat. Relatif murah loh kuenya. Kalo di Brusselspring dan Harvest tiap potong bisa sekitar 18-20 ribu, di sini cuma 7 ribu 😀 Kemarin aku makan mocca cake. Sebenernya yang direkomendasikan itu Volcano, tapi udah habis 😦 Kalo kue pesannya nggak dari menu, tapi langsung pilih di counter. Kalo secara keseluruhan meski penampakannya resto klasik, harganya nggak mahal-mahal amat kok ternyata. Kemarin makan berdua dengan dessert asyik-asyik habis 55 ribu udah termasuk pajak 10%. Mau banget deh kesini lagi, tapi kayaknya bakal makan es krim aja biar puas :mrgreen:

Oke marilah kembali berkuliner 😀

Hari Kamis minggu lalu setelah siangnya mengunjungi bu guru ndutyke dan makan mie kocok, malemnya aku makan di Kambing Cairo. Awalnya sih rencana janjian hari Kamis itu mau pergi cari kado buat si mbak kamar sebelah tapi karena beberapa hari sebelumnya pas belanja sendirian aku udah nemu kadonya, jadilah mau makan aja. Sekitar jam 7 malem si bocah Aldi, one of my high school classmates that continue studying here, *yang sebelumnya protes karena ga disebut namanya pas aku nulis tentang Kambing Soen 😆 * nyamperin ke kosan. Dia males sebetulnya jauh-jauh makan di daerah Setiabudi, tapi aku udah ribut “Kambing… kambing… mau kambing…” Akhirnya dia mau, dan kami ke Kambing Cairo di Gegerkalong, lewat Setiabudi. Di Bandung sendiri Kambing Cairo ada dua cabang, satunya di Jalan Pelajar Pejuang, dekat Hotel Horison.

Tempatnya lumayan juga sih, parkirnya gampang dan area makannya cukup luas. Semi-outdoor begitu. Menunya ada kambing bakar yang katanya rendah kolesterol karena pake kambing di bawah 5 bulan, gulai, tongseng, dan sejenisnya. Waktu itu pesen kambing bakar yang 350 gram. Sama dessert es krim vanila.

Itu foto kambingnya pas udah setengah dimakan, pas awal lupa sih 😛 aslinya lebih gede dari itu kok. Ini es krimnya.

Sayangnya lupa bilang ke mas-masnya biar es krim nanti aja keluar setelah makan. Jadi agak leleh deh waktu dimakan setelah kambingnya habis. Tapi mestinya dari pihak penjualnya inisiatif juga sih ya dessert dikeluarkan belakangan. Secara keseluruhan menurutku enak sih, bumbunya meresap dan nggak bau kambing aneh. Sambel kecapnya juga nggak langsung dicampur antara kecap, cabe, dan mericanya, jadi bisa diatur-atur sendiri. Ada jeruk nipisnya juga. Paling kurang banyak aja sih 😛 Tapi kalo kata Aldi bumbunya agak kurang, dia lebih suka yang di Kambing Soen. Hmm, kayaknya kok kami doyannya kambing ya? Nggak apa-apa lah, toh sama-sama tekanan darah rendah 😀 Soal harga sebanding sih ya buat kambing bakar dengan porsi segitu. Ya kalo buat anggaran mahasiswa boleh deh, asal nggak tiap hari, bangkrut ntar :mrgreen:

Lama-lama jadi blog kuliner ini 😆

Yak, destinasi kali ini namanya Nanny’s Pavillion. Malem minggu kemarin ada teman sekelasku SMA yang lagi ke Bandung, Murni alias Muncha alias Munk Munk 😀 Dia sama keluarga, ada acara nikahan gitu hari Minggunya. Nah Sabtu malem kami (aku, Al, Enggar, Gio, dan Uke) mengunjungi tempat nginepnya di daerah Ciumbuleuit. Terus kami jajan di Nanny’s. Nanny’s ini menu utamanya pancake. Ada yang pake es krim dan ada yang hot pancake pake sosis lalala gitu. Ada menu lain juga sih kayak pasta dan nasi entah apa namanya lupa. Bisa milih mau pake pancake atau waffle. Kemarin aku pesan menu super unyu, pancake stroberi yang pancake-nya bentuk hati 😳

Fotonya jelek sih, cuma pake kamera HP. Habis tidak berencana akan berfoto-foto. Ini menu-menu lain yang dipesan anak-anak.

Oya Nanny’s yang kami kunjungi ini tempatnya di Jalan Setiabudi. Tempatnya masih cukup baru dan aku baru pertama kemarin ke situ. Ada satu tempat lagi di Jalan Riau, nah kalo yang itu aku pernah dua atau tiga kali gitu kesana. Selain makanannya, interior tempat ini juga lucu, asyik buat foto-foto. Beneran deh kalo tau mau ke sini kemarin bawa kamera 😦 Secara keseluruhan, aku merekomendasikan tempat ini. Mau rame-rame bareng teman, keluarga, atau yang lain asyik kok 😀