Le Voyage de la Vie

Archive for the ‘Personal’ Category

Sungguh lama sekali aku tidak menulis di blog ini. Kombinasi dari penggunaan media sosial yang memudahkan untuk berbagi foto dan cerita kepada teman-teman dengan tidak adanya akses internet di laptop membuatku menjadi malas menulis. Selama 2 tahun terakhir aku bekerja di lokasi terpencil di Papua Barat, dengan jadwal kerja 3 minggu penuh kerja, dan 3 minggu libur. Di sana ada wifi tetapi sangat lambat. Sementara itu ketika libur aku tidak lagi tinggal di kost di Jakarta yang ada akses wifi, tetapi kembali ke rumah orang tua di pinggiran Surabaya. Dengan adanya smartphone, tidak ada masalah dengan akses komunikasi, hanya saja aku menjadi jarang menulis blog dan streaming atau download film dan drama seperti di kost dulu. Wajar juga, karena di rumah ada banyak orang sehingga selalu ada kesibukan bersama mereka. Ada orang tua, pakde dan bude, sepupu, 4 keponakan anaknya sepupu yang selalu siap diajak main, dan mulai 5 bulan lalu ada suami juga.

Read the rest of this entry »

Advertisements

Musim panas tahun lalu, aku jalan-jalan ke Tokyo sendirian. Solo traveling. Kenapa sendirian? Karena sekitar 2 bulan sebelumnya, aku dapat info kalau bulan Mei aku akan ada tugas kerja di site, yang berarti setelahnya akan dapat libur tanpa potong jatah cuti tahunan. Kebetulan di tanggal liburnya ada konser solo penyanyi favoritku di dekat Tokyo. Tapi tanya ke teman-teman, ternyata mulai dari teman kuliah, teman kerja, sampai teman-teman jalan-jalan ke Seoul sebelumnya tidak ada yang bisa pergi di awal Juni itu. Aku belum pernah jalan-jalan ke luar kota atau luar negeri sendirian sebelumnya, paling pernah naik pesawat atau kereta sendiri kalau pulang kampung atau urusan pekerjaan. Setelah tanya ke beberapa teman dan cari info, sepertinya Tokyo cukup aman dan, jadilah nekat beli tiket dan mulai urus visa. Oya, aku tidak bisa berbahasa Jepang dan baca tulisan Jepang sama sekali lho, jadi memang nekat pergi sendirian kesana. Seru banget jalan-jalan sendirian di Tokyo, favoritku adalah taman-taman dengan pemandangan yang cantik sekali.

Shinjuku Gyoen 1.jpg

Shinjuku Gyoen

Read the rest of this entry »

Sejak masih kerja di tempat sebelumnya, aku sudah berencana untuk jalan-jalan ke Korea atau Jepang. Berhubung pindah kerja, rencana itu harus tertunda sampai aku dapat jatah cuti. Aku mulai dapat jatah cuti per Desember 2015, tapi berhubung Desember musim liburan, aku memutuskan untuk ke Seoul di bulan Januari 2016 supaya tidak saat peak season dimana harga penerbangan dan penginapan jadi mahal, sekalian merasakan musim dingin untuk pertama kalinya.

Yeouido Hangang Park

Di Yeouido Hangang Park, dingin meski sudah pakai baju dan jaket berlapis-lapis

Read the rest of this entry »

Setelah dari KLCC, aku dan Ilma jalan kaki ke Bukit Bintang. Bentuk jalannya Walkway, di atas seperti jembatan penyeberangan, tapi panjang dan tertutup. Lumayan juga, sekitar 15 menit mungkin ya. Bukit Bintang isinya mall dan mall. Karena sudah sore dan kami lapar (lagi 😀 ) akhirnya kami mulai cari makan. Eh tiba-tiba hujan, jadilah kami berteduh dulu di Lot 10, salah satu mall yang udah cukup lama. Di basement mall ini ada foodcourt yang cukup terkenal, Lot 10 Hutong. Tadinya mau coba, tapi ternyata semuanya makanan non-halal. Setelah hujan berhenti, kami jalan lagi, lewat Jalan Alor. Jalan Alor ini juga pusat Chinese food, dan lagi-lagi gagal nemu makanan halal yang menarik 😦 Bosen juga kalau makanan India lagi, siangnya sudah makan nasi Kandar.

Petaling Street, photo by Ilma

Jalan Alor, photo by Ilma

Read the rest of this entry »

Wah sudah lama juga ya nggak nulis di sini 😥 Baiklah sebelum mulai menulis lagi tentang macam-macam, aku mau cerita dulu tentang apa yang terjadi selama aku menghilang dari dunia blog. Aku mulai dari Mei, meskipun sekitar bulan Juni kemarin aku masih sempat nulis disini juga.

Mei

Mei tahun ini adalah bulan yang snagat hectic saudara-saudara. Selain UAS seperti tahun-tahun sebelumnya, tahun ini juga ada deadline tugas akhir. Tugas akhir di jurusanku ada dua, Penelitian dan Rancang Pabrik, tapi maisng-masing berkelompok. Aku juga daftar program internship di Chevron. Karena programnya dimulai tanggal 28 Mei, jadi aku harus beres tugas akhir sebelumnya, yah deadline jadi lebih cepat beberapa hari dibanding yang lain. Setelah semua urusan beres, orang tuaku datang ke Bandung buat bantu packing karena barang-barangku yang di kos mau dikirim ke rumah. Nggak ngekos selama ditinggal internship. Terus ke Jakarta buat semacam orientasi programnya dan besoknya terbang ke Pekanbaru lewat bandara Halim Perdanakususma. Pertama kali naik pesawat dari Halim 😀

Juni-Juli

Dua bulan ini nggak ada cerita yang menarik kayaknya 😛 Sebagian seperti tentang kabut asap sudah aku tulis juga. Oh iya, di bulan Juli sempat main ke Bukittinggi sama teman-teman yang internship di Duri. Pergi dari Duri sekitar jam 9 malam hari Jumat, sampai Bukittinggi Sabtu pagi. Pulangnya Minggu siang. Wah keren banget sih pemandangan alamnya. Sempat ke Ngarai Sianok, Lembah Harau, Istana Pagaruyung, dan Jam Gadang. Sayangnya wkatu mau lihat Danau Maninjau dari atas, ketutup kabut 😦

Agustus

Tanggal 7 Agustus program internship selesai dan kami dikembalikan ke Jakarta. Pesawat dari Dumai ke Jakarta delay sekitar 3 jam karena… nunggu bus dari Duri yang mengangkut penumpang 😐 Haha, pesawatnya coplane sih, bukan pesawat komersial. Dari Jakarta ke Surabaya naik pesawat berdua sama teman yang habis internship di Balikpapan. Karena dari perusahaan cuma ditanggung sampai Jakarta, jadi buat balik ke Surabaya aku bareng satu-satunya anak internship yang dari Surabaya juga. Berasa mau/habis honeymoon gitu deh di bandara berdua. Selanjutnya sekitar dua minggu lebih di rumah, nggak terlalu banyak aktivitas sih. Sempat buka bersama bareng teman-teman sekelas SMA. Terus sebelum balik ke Bandung sempat liburan ke Batu sama keluarga, sekalian mengantar adik sepupu yang mau kuliah di Malang. Akhir Agustus balik ke Bandung, pertama kali naik pesawat sendirian. Habis tiket kereta ampun mahalnya.

September.

Nah ini nih bulan penuh cerita untuk dikenang tapi tidak untuk diulang. Meskipun tugas akhirku sudah beres di bulan Mei, aku belum lulus lho. Karena di jurusanku, penentu kelulusannya itu ujian komprehensif. 1 SKS, tapi materi yang diujikan adalah materi dari semester 1. Ujiannya dari jam 8 pagi sampai jam 5 sore, 4 sesi maisng-masing 25 soal dalam 100 menit. Jadi mulai sampai Bandung aku belajar bareng sama temna-teman pejuang kompre September lainnya setiap hari. Bahkan hari Minggu juga. Sebenarnya waktu persiapan kami maish agak lama sih dibanding yang kompre Juni kemarin. Nah yang seru sedih, waktu H-10 aku sakit tipes. Waktu itu beberapa hari tiap sore pulang dari kampus mesti demam. Akhirnya disuruh dokter tes darah lengkap, tapi trombonya normal, jadi bukan demma berdarah. Setelah dites widal, ketahuan lah sakitnya apa. Untungnya nggak perlu rawat inap. Tapi harus bed rest di kos. Waktu semester lalu skait yang sama, aku pulang ke rumah. Tapi karean sudah dekat ujian nggak mungkin juga dong pulang. Untung di kos ada temanku yang sudah lulus Juni kemarin, yang baik hati membelikan makan biar aku nggak usah keluar. Teman-teman yang mau ujian kompre juga sempat belajar di kosku. Untungnya pas ujian sudah sehat. Dan besoknya wkatu pengumuman hasil, alhamdulillah lulus. Nilainya nggak usah disebut lah ya.

 

Nah demikian itu kenapa aku dari Mei kemarin menghilang. Karena sekarang udah nggak ada tanggungan ujian, aku bakal berusaha nulis disini lebih sering deh 😀

 

Braga Permai

Posted on: May 7, 2012

Kali ini perjalanan kuliner mampir ke Braga Permai, resto di Jalan Braga, Bandung yang dulunya bernama Maison Borgerijen. Yap, ini resto ala jaman kolonial Belanda gitu. Seperti kebanyakan bangunan di daerah Braga, bangunan resto ini dan interiornya bergaya kolonial. Malah katanya dulu bangunannya lebih megah lagi. Sayangnya karena kesana malam jadi foto eksteriornya tidak ada.

Hmm, mulai darimana ya? Seperti beberapa kesempatan sebelumnya, acara liputan kuliner 😎 kali ini ditemani oleh si anak elektro. Kali ini dia yang ngajak duluan lho 😳 Mungkin ini bakal terakhir kali makan bareng di luar *warung pecel lele dan kantin kampus tidak termasuk* mengingat akhir Mei dia akan magang di luar pulau sampai awal Agustus dan aku berjuang biar bisa wisuda bulan Juli. Singkat cerita, kami janjiannya habis magrib. Eh pas siap-siap tiba-tiba hujan. Doeng. Masa kagak jadi 😐 Untungnya hujannya cuma sekitar 10-15 menit gitu.

Berhubung habis hujan dan maish agak-agak gerimis, kami pilih duduk di dalam. Sebenernya di luar juga ada, pake payung-payung gitu tempat duduknya. Dulu waktu kesana mengantar mahasiswa-mahasiswa dari Singapura yang lagi ikut smeinar di ITB, kami duduknya di bagian luar. Karena tujuan utama kesini adalah buat dessert jadi makan beratnya pesan satu menu aja. Nah disini itu di tiap meja udah ada piring, sendok, garpu buat tiap orang. Pesenannya datang di piring silver gede. Cukup lah buat dimakan berdua. Klao datang rame-rame sih mending pesan beberapa macam makanan buat dimakan bareng-bareng daripada pesen satu-satu. Kami pesennya special fried noodle. Ini dia, pas udah dimakan setengahnya. Baru ingat belum difoto sih 😆

Pas udah mau abis aku baru nyadar dong kalo ada udang di situ 😯 Mengingat beberapa kali terakhir setelah  makan bareng si anak elektro dengan menu seafood aku jadi bentol-bentol alergi, panik dong ya aku. Untungnya enggak sih. Fiuh. Terus habis itu yang ditunggu-tunggu, es krim 😀 Es krim disini macem-macem, harganya juga nggak mahal-mahal amat untuk ukuran es krim seenak itu. Menurutku lebih enak jauh daripada di I Scream for Ice Cream. Kalo nggak salah ini namanya Exotica. Di atasnya ada whipped cream dan choco chip. Dilengkapi sama stroberi, peach, dan sirup kelapa. Teksturnya lembut dan seger banget. ENAK DEH :mrgreen: Aku kasih nilai 10 dari 10 buat es krimnya.

Oya di sini juga jual cake dan macem-macem cokelat. Relatif murah loh kuenya. Kalo di Brusselspring dan Harvest tiap potong bisa sekitar 18-20 ribu, di sini cuma 7 ribu 😀 Kemarin aku makan mocca cake. Sebenernya yang direkomendasikan itu Volcano, tapi udah habis 😦 Kalo kue pesannya nggak dari menu, tapi langsung pilih di counter. Kalo secara keseluruhan meski penampakannya resto klasik, harganya nggak mahal-mahal amat kok ternyata. Kemarin makan berdua dengan dessert asyik-asyik habis 55 ribu udah termasuk pajak 10%. Mau banget deh kesini lagi, tapi kayaknya bakal makan es krim aja biar puas :mrgreen:

Baru-baru ini aku menyadari, tidak pernah ada kata terlambat untuk move on. Weits, jangan berpikir ini move on urusan percintaan ya 😆 Ini masih soal kosan itu lho. Jadi sejak awal direnovasi Februari kemarin, aku udha merasa kurang nyaman. Tapi tetap bertahan karena ada diskon 70%. Selain itu kupikir ribet juga sih kalo pindahan sementara tinggal sekitar stau semester lagi. Tapi akhirnya ketika sudah pindahan ke kos baru, meski sepertinya dan semoga bakal cuma 2-3 bulan, aku baru menyadari kalau move on itu penting. Ketika sudah merasa tidak nyaman, ya kenapa tidak ditinggalkan dan mencoba yang baru?

Ini berlaku buat hal-hal lain juga sih. Iya nggak? Kalau memang merasa tidak nyaman dengan sesuatu, tidak ada salahnya mencoba mengubah kondisi atau mencari yang baru. Daripada rasa tidak nyaman itu justru akhirnya berpengaruh ke aspek-aspek kehidupan yang lain dan malah bikin nggak produktif?


October 2019
M T W T F S S
« Sep    
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  

Blog Stats

  • 18,033 hits

Live Traffic

Flag Counter

Advertisements