Le Voyage de la Vie

Archive for the ‘Pikir-pikir’ Category

Beberapa waktu lalu sempat mengobrol dengan seorang teman, menyangkut perkembangan teknologi, khususnya di bidang telekomunikasi. Sekarang ini, khususnya di Indonesia, dan terutama lagi di kota besar, nyaris semua orang punya alat telekomunikasi pribadi, yaitu HP. Jaringan internet juga sudah gampang didapatkan dimana-mana. Memudahkan hidup? To a certain point, yes. Mendekatkan yang jauh? Ya benar. Coba contohnya lewat blog seperti ini aku jadi bisa berkomunikasi, slaing berkomentar, dan tau secuplik kehidupan dari orang-orang yang memang sudah dikenal tapi secara geografis jauh (seperti memtike), kenalan baru yang ada di lain pulau (seperti mel), atau bahkan luar negeri (seperti zilko). Telepon pun juga semakin murah, mamaku bisa nelpon kapan aja tanpa heboh biaya interlokal seperti yang aku tau jaman aku SD dulu. Temanku yang orang tuanya di luar negeri juga sering ditelepon via VoIP.

Nah tapi, disadari atau tidak, teknologi juga bisa menjauhkan yang dekat. Sekarang ini sering kan lihat ada beberapa orang duduk berdekatan tapi sibuk dengan gadget masing-masing. Bukannya membangun interaksi sosial yang nyata, tapi justru sibuk dengan interaksi di dunia maya. Memang sih, kadang apa yang ada di gadget itu penting, seperti berita penting atau email penting. Dan aku sendiri juga nggak sok suci, aku pun juga sering ngecek HP di tengah keramaian. Dan jujur saja, misalnya di lingkungan tempat tinggal, aku nggak kenal dengan penghuni kos sebelah-sebelah. Justru teman baru lebih banyak di dunia maya.

Hmm, jadi aku pikir sih seharusnya meski teknologi telekomunikasi sudah sedemikian majunya, interaksi sosial nyata tetap nggak boleh dilupakan. Bagaimanapun misalnya kita jatuh (dalam arti sebenarnya, kepeleset mungkin), ketusuk jarum, atau keiris pisau, yang akan menolong kan orang yang secara fisik dan geografis dekat, bukan yang dekat via dunia maya saja. Tapi di sisi lain, punya kenalan, teman, dan kontak sebanyak dan seluas mungkin juga nggak ada ruginya, justru banyak sisi positifnya. Jadi ya mesti seimbang 😀

3 minggu hidup di tempat baru ini bikin aku jadi nyadar kalau aku kangen Bandung. Nggak terasa udah 8 semester = 4 tahun tinggal di Bandung. Yang dulu awalnya sempat stress dan homesick plus nangis-nangis bombay kangen rumah dan merasa nggak sanggup hidup sendiri di Bandung, sekarang justru jadi kangen. Tanpa disadari dari yang dulu hidup di Bandung itu keluar dari zona nyaman, eh sekarang Bandung itu sudah jadi zona nyaman 😀

Bukan berarti aku nggak suka hidup disini. Nggak kok, nggak sampai homesick kayak waktu awal-awal di Bandung. Masih doyan makan kok 😆 Cuma apa ya, salah satu yang bikin aku seneng di Bandung itu karena di sana aku bisa mandiri. Mau kemana-mana gampang pergi sendiri. Pengen apa, perlu apa, bisa cari sendiri. Kalo di rumah kan rumahku cukup jauh dari mana-mana dan nggak ada kendaraan umum, jaid buat hal simpel kayak ke minimarket atau ATM aja mesti nunggu ada yang nganterin. Sama seperti disini, kalo mau ke kota mesti nunggu jadwal round bus yang cuma siang sehingga cuma bisa pergi Sabtu-Minggu. Buat makan juga sudah disediakan sih, tapi itu artinya nggak bisa pilih menu juga. Belum terbiasa aja sih dengan pola kehidupan begini.

Kembali ke topik, kangen deh sama Bandung. Kangen jalan-jalan sendirian makan pempek depan BEC sebelum ato sesudah les Prancis, kangen jalan sama teman-teman juga. Dan yang bikin agak sedih, nanti pas aku balik ke Bandung, teman-temanku kayaknya bakal banyak yang udah lulus. Seneng sih kalo teman-teman lulus, tapi sepi dong 😦

Baru-baru ini aku menyadari, tidak pernah ada kata terlambat untuk move on. Weits, jangan berpikir ini move on urusan percintaan ya 😆 Ini masih soal kosan itu lho. Jadi sejak awal direnovasi Februari kemarin, aku udha merasa kurang nyaman. Tapi tetap bertahan karena ada diskon 70%. Selain itu kupikir ribet juga sih kalo pindahan sementara tinggal sekitar stau semester lagi. Tapi akhirnya ketika sudah pindahan ke kos baru, meski sepertinya dan semoga bakal cuma 2-3 bulan, aku baru menyadari kalau move on itu penting. Ketika sudah merasa tidak nyaman, ya kenapa tidak ditinggalkan dan mencoba yang baru?

Ini berlaku buat hal-hal lain juga sih. Iya nggak? Kalau memang merasa tidak nyaman dengan sesuatu, tidak ada salahnya mencoba mengubah kondisi atau mencari yang baru. Daripada rasa tidak nyaman itu justru akhirnya berpengaruh ke aspek-aspek kehidupan yang lain dan malah bikin nggak produktif?

“Takut Gagal akhirnya membuat kita sedikit bertindak, sedikit bertindak akhirnya cuma sedikit yg didapat”

Itu adalah sebuah tweet  yang muncul di linimasa aku sore ini tadi. Langsung aku retweet. Pas banget dengan apa yang lagi aku pikirkan. Jadi ceritanya sekarang ini kan aku seharusnya semester terakhir, menurut kurikulum demikianlah. Nah di tempatku itu tugas akhirnya ada banyak. Ini nih semua mata kuliah yang masuk tugas akhir:

  • Penelitian 1, 2 SKS. Biasa disebut juga penulap alias penulisan laporan (?) *bener gak sih*. Ini adalah proposal penelitian, meliputi bab 1-3. Mata kuliah wajib semester 7 tapi biasanya diambil di semester 6. Dikerjakan per kelompok 2 orang.
  • Kerja Praktek 2 SKS, ini berupa magang 2 bulan di industri pas liburan antara semester 6 ke 7. Setelah itu menyusun laporan sambil konsultasi dengan dosen pembimbing, yang untuk selanjutnya akan disebut ‘pembicaraan’ sesuai kebiasaan di tempat kuliahku. Sudah dilakukan dan urusanku soal KP ini sudah beres.
  • Penelitian 2, 3 SKS. Ini baru penelitian yang sesungguhnya, mengerjakan segala macam itu lah di lab masing-masing.
  • Rancang Pabrik 4 SKS. Ini berupa tugas perancangan pabrik di semester 8. Intinya sih, yah merancang pabrik secara menyeluruh. Dikerjakan per kelompok 3 orang.
  • Ujian Komprehensif 1 SKS. Ini baru bisa diikuti menjelang wisuda, kalo semua kuliah dan tugas akhir lain sudah beres. Ujiannya ujian deh. Bahannya segala dari awal kuliah di tahun pertama sampai tahun terakhir. Ujiannya maraton seharian dari pagi sampai sore.

Oh men, DUA BELAS SKS TUGAS AKHIR 😯 belum lagi di semester 8 masih ada kuliah wajib, dan aku juga ambil kuliah pilihan.

Buat sekarang ini, Penelitian 1 dan Kerja Praktek sudah terlewati. Penelitian 2 sedang dikerjakan, yah kira-kira sudah 2/3-nya. Kurang 3 minggu lagi deh kalo lancar. Rancang Pabrik sedang dikerjakan, baru awal-awal sih. Ujian Komprehensif niatnya mau cicil belajar sama geng nginep bareng tapi wacana yang ada realisasinya kurang lancar 😛

Nah, apa hubungannya dengan judul diatas? Ini ceritanya bisa dianggap aku lagi agak stress mikirin segala urusan kuliahan ini. Takut nggak beres aja. Gimana ya, karena kelompokan kan harus menyesuaikan sama ritme kerja dan jadwal serta urusan masing-masing. Nah aku sendiri termasuk orang yang tidak terlalu nyaman bekerja mepet deadline. Oh dan aku juga lebih suka kalo tugas tiap orang terdefinisi dengan baik. Tapi namanya kerjasama ya mesti saling menyesuaikan diri toh. Dan kebetulan ini sampai orang-orang lain sudah pada bergerak kok kelompokku kayaknya masih ada urusan lain. Kalo liat orangnya sih aku percaya banget kalo pada saatnya akan selesai. Mereka orangnya bertanggung jawab kok. Tapi ya itu, bikin deg-degan 😛

Nah berkaitan dengan itu, kalo yang pernah baca tulisan-tulisan lama di blog ini aku juga pernah sih galau semacam itu. Dan yah dipikir-pikir akar permasalahannya adalah ketakutanku akan kegagalan. Seringkali aku saat akan memulai atau baru memulai sesuatu udah heboh kepikiran gimana kalo nggak selesai, gimana kalo nggak jadi, gimana kalo jadinya nggak bagus. Ini udah terjadi dari lama sih. Entahlah. I think everyone has their own demon, and this is my demon.  Kalo aku analisis sendiri sih mungkin ini terjadi karena sepertinya aku belum pernah mengalami kegagalan besar. Bukan bermaksud sombong, tapi kayaknya sampai sekarang hidupku bisa dibilang lempeng-lempeng aja. Misalnya buat sekolah, bisa sekolah di tempat yang aku mau. Meski ada kendala ini-itu awalnya, tapi ada aja jalan yang terbuka. Jadi aku rasa karena belum pernah mengalami kegagalan besar ini yang bikin aku juga jadi belum pernah belajar bagaimana bangkit dari kegagalan. Suatu pembelajaran yang ketika diingat akan akan membuat “Oh aku pernah bisa kok bangkit dari kegagalan seperti itu, jadi menghadapi masalah di depanku sekarang juga pasti bisa”.

Lah terus? Apa aku harus jatuh dulu buat belajar berdiri? Di titik sekarang ini, aku bilang tidak, wahai diriku sendiri. Kalaupun belum pernah jatuh, ya teruslah melangkah. Berusahalah biar tidak akan jatuh. Yah mungkin tidak akan punya penyemangat berupa  “Oh aku pernah bisa kok bangkit dari kegagalan”, tapi kan berarti bisa punya penyemangat “Oh selama ini aku bisa kok“. Dalam kasus sekarang ini, apa sih yang perlu dikuatirkan? Bahkan KP aku udah beres, termasuk salah satu yang paling cepet beres malah. Dan penelitian juga sebenernya nggak 2/3 ding, malah bisa dibilang 80%. Udah tau apa yang harus dilakukan, dan pengerjaannya tinggal dua minggu lagi, kecuali bahwa minggu depan ada long weekend. Pengolahan datanya juga nggak sulit-su;it amat nampaknya. Analisisnya juga udah kebayang. Hello, so where’s the problem dear? Yang rancang pabrik, bisa lah yaa. Ayolah semangat, berhenti takut gagal dan mulai dari apa yang bisa dimulai. Menulis ini juga termasuk memulai sih, biar hati plong dan mengerjakan segala sesuatunya lancar *pembelaan diri* 😆 Bener juga sih ya kalo musuh terbesar itu diri sendiri. Ayo jangan malas, jangan takut gagal, ayo mulai bertindak 😀

Hmm nampaknya demikian tulisan pengingat untuk diri sendiri. Mohon doa restunya biar semua lancar dan urusan perkuliahan segera selesai 🙂

Historical fictions are based on real historical events, places, and/or persons with fictional characterization and details. It may closely resembles its actual counterpart or deviated broadly. It includes films, novels, plays, and other media. I enjoy historical fictions so much, especially historical novels. Some novels that I have finished are:

  • Arok Dedes by Pramoedya Ananta Toer. This book is about Ken Dedes and Ken Arok of Singasari. I haven’t finished it yet, but I like its storyline and language so much.
  • Pulau Buru Tetralogy by Pramoedya Ananta Toer. It consists of four books; Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Jejak  Langkah, and Rumah Kaca. It is set in Indonesian National Awakening era. I admire how a local boy who got proper Dutch education saw the reality around him and started to use newspaper to build opinions against Dutch government.
  • The Lady Elizabeth by Alison Weir. It is based on the life of Queen Elizabeth I from her childhood until she ascended the throne. I got lots of insights about Englosh life in Tudor era from this novel.
  • The Queen’s Governess by Karen Harper. It is set in Tudor era also, but from Elizabeth’s governess’ (Kat Champernowne’s) point of view. It covers longer time span than The Lady Elizabeth; started from Anne Boleyn’s era to Kat’s death.
  • Scarlett by Alexandra Ripley. It is the sequel of legendary Gone With The Wind. Set in America and Ireland, it beautifully told Scarlett’s story. I don’t really know whether it can be categorized as a historical novel but I think it is.
  • Becoming Marie Antoinette. I forget who’s the author of this book. As indicated by its title, this book recounts Marie Antoinette’s life, from her childhood as an Austrian archduchess Maria Antonia to her teenage life and subsequent marriage to French dauphin Louis. This book is the first of a series and its successors haven’t been published yet.

Those are historical novels I have read recently. I think I learn much from those novels. Of course as I have stated above, a hostorical novel is not an actual recount of events. So, I often search about the real historical facts after read a novel and compare them. And I can remember those historical things better when I have read it in a novel. Maybe it is because there is an emotional attachment that I get when I read a novel. It is something I could not get from history books of my school days 😛 In my opinion, a historical fiction can serve both as entertainment and educational source, but it should not regarded as a real recount of history.

P.S: I haven’t written in English for a long time and I do know that the quality my writing has been declined much 😦 Yeah, I have to practice again.

Dua hari kemarin, karena sesuatu hal aku jadi melihat banyak tayangan TV. Biasanya aku nyaris tidak pernah menonton TV, karena tidak punya di kamar kos, dan TV bersama di kos adanya di lantai bawah yang jauh dari kamarku. Jadi aku mengikuti berita kebanyakan dari baca koran atau baca di portal berita dunia maya. Ternyata beda tau berita dari baca dengan melihat cuplikan peristiwa langsung di TV.

Berita yang paling banyak aku lihat adalah tentang kilas balik tsunami Aceh 7 tahun lalu dan konflik berdarah yang terjadi di beberapa daerah di Indonesia, antara lain di Mesuji dan Bima. Miris lihatnya. Miris melihat bagaimana di Aceh masih ada pengungsi yang hidupnya belum bisa kembali normal seperti sebelum terjadi tsunami. Padahal di berita juga ada kilas balik peristiwa 2011, salah satunya tentang tsunami di Jepang, dimana mereka nampak segera bangkit dari bencana alam yang menerpa tersebut. Juga miris melihat bagaimana aparat yang seharusnya menjaga keamanan malah membubarkan demonstrasi warga dengan kekerasan. Aku sempat melihat adegan dimana seorang ibu juga diperlakukan demikian oleh aparat keamanan. Dimana nurani? Aku tidak bilang kalau sekarang semua negatif begitu, tapi kenyataannya banyak.

Ya, melihat ini aku jadi makin merasa bahwa sudah bukan saatnya cuma diam dan mengomentari mengapa negeri ini begini dan begitu. Ini membuat semangatku bertambah untuk ikut serta berusaha membawa perubahan ke arah yang lebih baik.

Tags: ,

Semester tujuh buat aku (belum) berakhir. Yep, masih ada satu mata kuliah yang sudah jelas nggak beres di semester ini. I have expected it though. Mata kuliah tugas akhir sih. Dear my bacteria, please be cooperative next semester okay? 😉

Tapi dari yang sudah terlewati ini, aku merasa banyak mendapat pelajaran berharga dari banyak hal di semester 7 ini. Pertama, sebelum semester ini mulai, *betewe, kenapa sih dari tadi salah ketik mulu jadi semesetr 😡 * ada sebuah perubahan besar yang terjadi dalam hidupku. Tidak perlu dibahas lebih dalam, yang jelas aku jadi belajar untuk keluar dari zona nyamanku dan merasakan bahwa di luar itu kalau aku mau berusaha, aku juga tidak semenderita bayanganku kok 🙂

Selanjutnya, di semester ini aku banyak kesibukan. Lebih daripada biasanya. Ya meskipun secara akademik udah nggak ada si praktikum 2 SKS tapi memakan waktu 2 hari penuh belum termasuk bikin jurnal, laporan, dan pembicaraan pra serta pasca praktikum sama dosen. Bukannya aku mengeluhkan praktikum itu, belajar banyak hal juga kok dari situ. Balik ke topik, semester ini aku ambil 22 SKS. Wohooo, jumlah SKS terbanyak yang pernah aku ambil. Tapi bukan semuanya SKS kuliah di kelas, ada 2 SKS kerja praktek yang udah dilakukan waktu liburan dan tinggal pembicaraan sama dosen pembimbing. Terus ada 3 SKS penelitian teknologi bioproses *ini nih tersangkanya, yang bikin semester ini belum tuntas, dasar bakteri rewel* 😥

Lanjuuuut, selain akademik di kampus, aku juga melanjutkan les Prancisku dengan harapan bisa ikut tes DELF. Cerita lengkap mengenai per-DELF-an ini ada di sini. Oya hasilnya udah keluar, alhamdulillah lulus. Yang bagian Compréhension de l’écrit alias pemahaman teks (kalo inggris mah reading), aku dapat 25 dari 25 😀 hepi deh. *Merci beaucoup Monsieur Kiky* Terus aku juga ada kegiatan lain di luar kampus. Sesuatu yang bikin aku menyadari hidupku buat apa deh. Kalo di dalam kampus sendiri semester kemarin tuh aku ikut di sekretariat STKSR (Seminar Teknik Kimia Soehadi Reksowardojo) yang salah satu job tidak resminya adalah ikut menemani peserta dari luar negeri mbolang di Bandung 😀 Asyik lah melancarkan Inggris. Terima kasih buat Ajimufti sang kadiv dan Ganies Ryadi yang mengajak menemani tamu itu.  Terus ada Reuni Akbar 70 Tahun Teknik Kimia, jadi LO. Ini dapat fee bok 😛 Terima kasih para koordinator Dewi dan Tika. Dan yang paling berkesan adalah Himatek Berkarir, pertama jadi ketua acara pas kuliah ini 😳 Meskipun maish banyak kurang di sana-sini tapi terima kasih pada alumni TK77 dan teman-teman panitia semuanya deh.

Soal terima kasih, banyak banget nih yang harus dikasih ucapan terima kasih 🙂 Selain my beloved parents tentunya, juga banyak yang lain, yaitu:

  • Para penghuni kosan gaul-asyik (sejak kapan sih istilahnya jadi begini? Kosan rajin aja gimana woy?), Novita Dwi Putri dan Dewi Rakhmawati yang udah sering diinepin terutama kalau mau ujian. Bahkan baju bobok masih ada yang ketinggalan 😛 Beserta para peserta camp, Ilma Nafiani yang jadi teman berlomba dan berbelanja 😀 serta Anissa Nurdiawati yang baik hati dan pintar *lagi*. Juga terima kasih lagi buat Nonop dan Ilma partner tugas besar TK5019. Ilma, Nonop dan Dewi buat CPDC. Anur buat jadi model di blog 😛 Jangan lupa nambah properti papan tulis dan kotak amal buat semester depan ya kawan *serius*

Paling kiri aku sendiri, Dewi, Novita (Nonop), Anissa (Anur), dan Ilma

  • Para peserta kelas TK5024 atas ketabahannya bingung bersama terutama pada akhir semester 😀 Terlebih lagi  partner tugas besar, Edwin Caesario dan Neil Priharto.
  • Para peserta kelas TK5006 yang mengira tidak ada ujian tapi ternyata ada 😆 Terutama Primandaru Widjaya partner presentasiku, Qintha yang catatannya oke, Rio, Willy, Wandi, Widi buat bantuannya mengerjakan Setengah UAS terakhir.
  • Teman sekelompok di TK4103, Karmelita, Abdurrachman Naim, dan Lius Daniel.
  • Partner TK4092 Eliezer dan dosen pembimbing penelitian Ibu Penia.
  • Asisten TK4111 yang baik hati, Adri Kristian. Gue tau kr itu kronor 😀
  • Partner TK4090 Rahma Utari berikut pembimbing di Unilever, Pak Doni Sukarno dan dosen pembimbing Pak Tri.
  • Dan semua teman di TK buat bantuan dan dukungannya baik untuk urusan akademik maupun nonakademik.
  • Berikut para dosen yang luar biasa
  • Serta para laboran yang luar biasa pula. Trio lab mikro Pak Komar, Teh Dewi, dan Teh Ratna. Juga para petugas TU yang baik hati, Pak Paidi dan juga Bu Lina yang sudah aku bikin repot soal KP. Terima kasih banyak.
  • Teman-teman di luar sana yang banyak memberi pandangan baru
  • Si mbak kamar sebelah, gadis geologi Risa Prameswari yang beberapa kali menyelamatkan aku dari ketiduran yang fatal ketika mestinya belajar atau bikin tugas, karena selalu kepo kalau aku dipanggil diam saja tapi lampu masih nyala 😆 *kalau niat tidur beneran aku mesti matiin lampu*. Terima kasih juga Risa dan ibunya untuk tebengan pada beberapa Senin pagi yang menyelamatkanku dari telat 😀
  • Dan anak-anak kosan lainnya, termasuk yang barusan lulus 🙂
  • Dua yang menjalani LDF sama aku 😳 Long Distance Friendship maksudnya 😆 yaitu mas C, Dwi Cahyo Ardianto yang entahlah sulit dijelaskan dengan kata-kata lagi, pokoknya udah ngerti aku banget deh 🙂 Tiap kali ngobrol sama orang ini rasanya ajaib, topik apapun bisa dibahas. Bener-bener apapun, mulai dari curhatan galau, karir, sampai sejarah dan teknologi, apapun bisa nyambung deh. Dan satunya, mbak Tirandan Primalia yang super baek hati. Terima kasih untuk momen waktu libur Idul Fitri kemarin 🙂 Be strong girl.
  • Dan para blogger yang memberi inspirasi serta kesempatan refreshing melalui tulisan-tulisan dan komentar-komentarnya.

Semester tujuh ini penuh warna deh. Memang STMJ 😛 tapi keseluruhan aku merasa mendapat banyak pelajaran berharga di semester ini. Mungkin kalau soal ini bakal terlalu panjang dibahas di satu tulisan sini juga, jadi bakal aku tulis di post lain 😀

Ciao!

*Aduh pas lagi di depan laptop ini nggak sengaja lutut kejeduk meja 😥 kayaknya bakal biru ini besok huaaa*