Le Voyage de la Vie

Wah sudah lama juga ya nggak nulis di sini 😥 Baiklah sebelum mulai menulis lagi tentang macam-macam, aku mau cerita dulu tentang apa yang terjadi selama aku menghilang dari dunia blog. Aku mulai dari Mei, meskipun sekitar bulan Juni kemarin aku masih sempat nulis disini juga.

Mei

Mei tahun ini adalah bulan yang snagat hectic saudara-saudara. Selain UAS seperti tahun-tahun sebelumnya, tahun ini juga ada deadline tugas akhir. Tugas akhir di jurusanku ada dua, Penelitian dan Rancang Pabrik, tapi maisng-masing berkelompok. Aku juga daftar program internship di Chevron. Karena programnya dimulai tanggal 28 Mei, jadi aku harus beres tugas akhir sebelumnya, yah deadline jadi lebih cepat beberapa hari dibanding yang lain. Setelah semua urusan beres, orang tuaku datang ke Bandung buat bantu packing karena barang-barangku yang di kos mau dikirim ke rumah. Nggak ngekos selama ditinggal internship. Terus ke Jakarta buat semacam orientasi programnya dan besoknya terbang ke Pekanbaru lewat bandara Halim Perdanakususma. Pertama kali naik pesawat dari Halim 😀

Juni-Juli

Dua bulan ini nggak ada cerita yang menarik kayaknya 😛 Sebagian seperti tentang kabut asap sudah aku tulis juga. Oh iya, di bulan Juli sempat main ke Bukittinggi sama teman-teman yang internship di Duri. Pergi dari Duri sekitar jam 9 malam hari Jumat, sampai Bukittinggi Sabtu pagi. Pulangnya Minggu siang. Wah keren banget sih pemandangan alamnya. Sempat ke Ngarai Sianok, Lembah Harau, Istana Pagaruyung, dan Jam Gadang. Sayangnya wkatu mau lihat Danau Maninjau dari atas, ketutup kabut 😦

Agustus

Tanggal 7 Agustus program internship selesai dan kami dikembalikan ke Jakarta. Pesawat dari Dumai ke Jakarta delay sekitar 3 jam karena… nunggu bus dari Duri yang mengangkut penumpang 😐 Haha, pesawatnya coplane sih, bukan pesawat komersial. Dari Jakarta ke Surabaya naik pesawat berdua sama teman yang habis internship di Balikpapan. Karena dari perusahaan cuma ditanggung sampai Jakarta, jadi buat balik ke Surabaya aku bareng satu-satunya anak internship yang dari Surabaya juga. Berasa mau/habis honeymoon gitu deh di bandara berdua. Selanjutnya sekitar dua minggu lebih di rumah, nggak terlalu banyak aktivitas sih. Sempat buka bersama bareng teman-teman sekelas SMA. Terus sebelum balik ke Bandung sempat liburan ke Batu sama keluarga, sekalian mengantar adik sepupu yang mau kuliah di Malang. Akhir Agustus balik ke Bandung, pertama kali naik pesawat sendirian. Habis tiket kereta ampun mahalnya.

September.

Nah ini nih bulan penuh cerita untuk dikenang tapi tidak untuk diulang. Meskipun tugas akhirku sudah beres di bulan Mei, aku belum lulus lho. Karena di jurusanku, penentu kelulusannya itu ujian komprehensif. 1 SKS, tapi materi yang diujikan adalah materi dari semester 1. Ujiannya dari jam 8 pagi sampai jam 5 sore, 4 sesi maisng-masing 25 soal dalam 100 menit. Jadi mulai sampai Bandung aku belajar bareng sama temna-teman pejuang kompre September lainnya setiap hari. Bahkan hari Minggu juga. Sebenarnya waktu persiapan kami maish agak lama sih dibanding yang kompre Juni kemarin. Nah yang seru sedih, waktu H-10 aku sakit tipes. Waktu itu beberapa hari tiap sore pulang dari kampus mesti demam. Akhirnya disuruh dokter tes darah lengkap, tapi trombonya normal, jadi bukan demma berdarah. Setelah dites widal, ketahuan lah sakitnya apa. Untungnya nggak perlu rawat inap. Tapi harus bed rest di kos. Waktu semester lalu skait yang sama, aku pulang ke rumah. Tapi karean sudah dekat ujian nggak mungkin juga dong pulang. Untung di kos ada temanku yang sudah lulus Juni kemarin, yang baik hati membelikan makan biar aku nggak usah keluar. Teman-teman yang mau ujian kompre juga sempat belajar di kosku. Untungnya pas ujian sudah sehat. Dan besoknya wkatu pengumuman hasil, alhamdulillah lulus. Nilainya nggak usah disebut lah ya.

 

Nah demikian itu kenapa aku dari Mei kemarin menghilang. Karena sekarang udah nggak ada tanggungan ujian, aku bakal berusaha nulis disini lebih sering deh 😀

 

Kabar terbaru dari Dumai: ASAP 😥 Jadi sejak minggu lalu di sini sering sekali ada asap. Semacam kabut asap gitu. Katanya sih dari pembakaran lahan dan hutan. Terutama pagi hari saat baru keluar rumah mau sarapan terus ke kantor, wuih penuh asap deh 😦 Sampai dari kantor dikasih masker yang mesti dipakai tiap ada di luar ruangan. Bahkan kadang di dalam ruangan masih terasa juga. Temanku disini ada yang lagi sakit batuk dan kayaknya nggak sembuh-sembuh juga karena itu. Apalagi dia punya asma. Aku sendiri alhamdulillah sampai sekarang belum kena pengaruh apa-apa dari asap itu, tapi menyebalkan juga sih. Pakai masker pun nggak nyaman kan. Yah semoga asapnya cepat hilang. Tpai denger-denger dari Ilma temanku yang dulu pernah tinggal di Riau sih, justru Juni-Agustus itu parah-parahnya asap. Hwew…

Tags: ,

3 minggu hidup di tempat baru ini bikin aku jadi nyadar kalau aku kangen Bandung. Nggak terasa udah 8 semester = 4 tahun tinggal di Bandung. Yang dulu awalnya sempat stress dan homesick plus nangis-nangis bombay kangen rumah dan merasa nggak sanggup hidup sendiri di Bandung, sekarang justru jadi kangen. Tanpa disadari dari yang dulu hidup di Bandung itu keluar dari zona nyaman, eh sekarang Bandung itu sudah jadi zona nyaman 😀

Bukan berarti aku nggak suka hidup disini. Nggak kok, nggak sampai homesick kayak waktu awal-awal di Bandung. Masih doyan makan kok 😆 Cuma apa ya, salah satu yang bikin aku seneng di Bandung itu karena di sana aku bisa mandiri. Mau kemana-mana gampang pergi sendiri. Pengen apa, perlu apa, bisa cari sendiri. Kalo di rumah kan rumahku cukup jauh dari mana-mana dan nggak ada kendaraan umum, jaid buat hal simpel kayak ke minimarket atau ATM aja mesti nunggu ada yang nganterin. Sama seperti disini, kalo mau ke kota mesti nunggu jadwal round bus yang cuma siang sehingga cuma bisa pergi Sabtu-Minggu. Buat makan juga sudah disediakan sih, tapi itu artinya nggak bisa pilih menu juga. Belum terbiasa aja sih dengan pola kehidupan begini.

Kembali ke topik, kangen deh sama Bandung. Kangen jalan-jalan sendirian makan pempek depan BEC sebelum ato sesudah les Prancis, kangen jalan sama teman-teman juga. Dan yang bikin agak sedih, nanti pas aku balik ke Bandung, teman-temanku kayaknya bakal banyak yang udah lulus. Seneng sih kalo teman-teman lulus, tapi sepi dong 😦

Beda dengan jurusan-jurusan lain yang kelulusannya ditentukan sama sidang skripsi/tugas akhir, di jurusanku penentu kelulusannya adalah ujian komprehensif. Ini adalah ujian 100 soal yang terdiri dari 4 sesi masing-masing 25 soal selama seharian penuh dari pagi sampai sore. Materinya? Semua bahan kuliah dari tahun pertama sampai terakhir. Haha *ketawa miris* Ujian ini diadakan tiap sebelum wisuda, sekitar 3 minggu sebelumnya gitu lah. Kalo nggak lulus ya mesti nunggu ada lagi di wisuda berikutnya 😦

Nah berhubung aku lagi ikut internship jadi aku nggak ikut ujian komprehensif Juni (yang buat wisuda Juli). Ujiannya diadakan besok tanggal 19 Juni, dan tanggal 20 langsung diumumkan. Pengumuman kelulusan inilah sidang sarjananya jurusanku. Kalo seminar penelitian dan presentasi rancangan pabrik kemarin nggak keitung sidang -__-

Baiklah disini aku mau mengucpkan selamat ujian dan semoga sukses buat 85 orang peserta ujian. Semoga lulus 100% 🙂 Terutama buat teman-teman belajar bareng di markas Tubagus VI/17, maaf ya aku ninggalin padahal udah dibagi jatah belajarnya hoeee.

This content is password protected. To view it please enter your password below:

Di Dumai ini aku nginepnya di rumah gitu. Satu rumah 3 kamar tapi kepake dua kamar aja, aku sama temenku. Yaiyalah orang yang intern disini 3 orang dan yang stau lagi cowok, masa iya serumah 😛 Dan masalah yang langsung terasa adalah nggak ada sinyal 😥 First world problem ya, haha. Tapi beneran nih, kalo di kantor atau di tempat lain di komplek tuh masih ada sinyal. Bahkan di depan rumah aja sinyal masih bagus. Tapi begitu di dalam rumah alamak, emergency mulu. Bahkan provider lain yang katanya terbesar se-Indonesia juga sekarat sinyalnya. Dong dong. Modem pun nggak ada sinyal di rumah. Ini aja ngenet di country club. WiFi gitu. Tadi berhasil telpon-telponan sama mama tapi ya cuma bentar. Yah semoga bisa bertahan haha. Senin bakal mulai kerja nih, kemarin baru dikasih tau gambaran kerjaannya sih. Ciao!

Seperti yang aku tulis sebelumnya, aku sekarang lagi di Sumatra. Yang terasa dari kemarin dan hari ini sih, perubahan jam dna kebiasaan hidup. Beberapa bulan terakhir, terutama dua bulan belakangan, aku sibuk dengan segala tugas akhir di kampus yang bikin ritme hidup nggak teratur seperti begadang sampai lebih drai tengah malam, curi-curi tidur siang hari atau pagi hari, makan nggak teratur, keluar malem-malem buat ngeprint dianterin sama anak elektro ganteng, pulang dari kampus malem-malem, dan sebagainya. Nah kalau disini ritme hidup jadi serba teratur. Belum tau sih nanti gimana kalo udah dapat tugas betulan, tapi sejauh ini kegiatan sangat teratur. Ya jam kantor lah ya. Makan juga sudah disediakan dengan sangat belrimpah baik makanan utama maupun snack. Semoga bisa menaikkan berat badan 😆 Terus karena disini itu komplek gede gitu yang meliputi perkantoran dan perumahan, jadinya sekitar jam 8 malem aja udah sepi. Toko kayak minimarket *ya disini sih uda toko paling gede atau mungkin satu-satunya ya* itu jam 8 udah tutup. Padahal biasanya di Bandung minimarket deket kosan sampe jam 10 masih buka, ada yang 24 jam juga bahkan. Aku tidak keberatan sih dengan kondisi begini, enak juga kok hidup teratur. Hmm apalagi ya. Oya disini nggak naik angkot, mana ada angkot dalam komplek :mrgreen: Kalo pergi antar fasilitas atau bangunan naik taksi komplek. Mobilnya avanza gitu tapi cuma bisa diisi 5 penumpang plus sopir, soalnya semua harus pakai belt. Biasanya di Bandung mobil SX4 mbak Ilma diisi enam orang tuh 😆 Tapi secara umum sejauh ini menyenangkan kecuali permasalahan sinyal. Indosat die disini 😥 Ini aku ngenet pake modem flexi malah lancar sekali, semalam lebih lancar daripada di kos malah. Masalahnya, sesorang yang lagi ikut program yang sama di Balikpapan sana nggak punya modem. Ngok. Di sini HP die, di sana internet nggak ada 😐