Le Voyage de la Vie

Posts Tagged ‘kuliner bandung

Braga Permai

Posted on: May 7, 2012

Kali ini perjalanan kuliner mampir ke Braga Permai, resto di Jalan Braga, Bandung yang dulunya bernama Maison Borgerijen. Yap, ini resto ala jaman kolonial Belanda gitu. Seperti kebanyakan bangunan di daerah Braga, bangunan resto ini dan interiornya bergaya kolonial. Malah katanya dulu bangunannya lebih megah lagi. Sayangnya karena kesana malam jadi foto eksteriornya tidak ada.

Hmm, mulai darimana ya? Seperti beberapa kesempatan sebelumnya, acara liputan kuliner 😎 kali ini ditemani oleh si anak elektro. Kali ini dia yang ngajak duluan lho 😳 Mungkin ini bakal terakhir kali makan bareng di luar *warung pecel lele dan kantin kampus tidak termasuk* mengingat akhir Mei dia akan magang di luar pulau sampai awal Agustus dan aku berjuang biar bisa wisuda bulan Juli. Singkat cerita, kami janjiannya habis magrib. Eh pas siap-siap tiba-tiba hujan. Doeng. Masa kagak jadi 😐 Untungnya hujannya cuma sekitar 10-15 menit gitu.

Berhubung habis hujan dan maish agak-agak gerimis, kami pilih duduk di dalam. Sebenernya di luar juga ada, pake payung-payung gitu tempat duduknya. Dulu waktu kesana mengantar mahasiswa-mahasiswa dari Singapura yang lagi ikut smeinar di ITB, kami duduknya di bagian luar. Karena tujuan utama kesini adalah buat dessert jadi makan beratnya pesan satu menu aja. Nah disini itu di tiap meja udah ada piring, sendok, garpu buat tiap orang. Pesenannya datang di piring silver gede. Cukup lah buat dimakan berdua. Klao datang rame-rame sih mending pesan beberapa macam makanan buat dimakan bareng-bareng daripada pesen satu-satu. Kami pesennya special fried noodle. Ini dia, pas udah dimakan setengahnya. Baru ingat belum difoto sih 😆

Pas udah mau abis aku baru nyadar dong kalo ada udang di situ 😯 Mengingat beberapa kali terakhir setelah  makan bareng si anak elektro dengan menu seafood aku jadi bentol-bentol alergi, panik dong ya aku. Untungnya enggak sih. Fiuh. Terus habis itu yang ditunggu-tunggu, es krim 😀 Es krim disini macem-macem, harganya juga nggak mahal-mahal amat untuk ukuran es krim seenak itu. Menurutku lebih enak jauh daripada di I Scream for Ice Cream. Kalo nggak salah ini namanya Exotica. Di atasnya ada whipped cream dan choco chip. Dilengkapi sama stroberi, peach, dan sirup kelapa. Teksturnya lembut dan seger banget. ENAK DEH :mrgreen: Aku kasih nilai 10 dari 10 buat es krimnya.

Oya di sini juga jual cake dan macem-macem cokelat. Relatif murah loh kuenya. Kalo di Brusselspring dan Harvest tiap potong bisa sekitar 18-20 ribu, di sini cuma 7 ribu 😀 Kemarin aku makan mocca cake. Sebenernya yang direkomendasikan itu Volcano, tapi udah habis 😦 Kalo kue pesannya nggak dari menu, tapi langsung pilih di counter. Kalo secara keseluruhan meski penampakannya resto klasik, harganya nggak mahal-mahal amat kok ternyata. Kemarin makan berdua dengan dessert asyik-asyik habis 55 ribu udah termasuk pajak 10%. Mau banget deh kesini lagi, tapi kayaknya bakal makan es krim aja biar puas :mrgreen:

Yak, kembali lagi dengan seri kuliner Bandung 😀

Setelah makanan berjenis daging nan berlemak dan lezat, tempat kali ini sesuai namanya menyediakan menu Jepang. Dan seperti cerita sebelumya, acara makan kali ini juga merupakan bagian dari kegiatan akademik 🙄 Jadi ya demikian memang, dalam masa jungkir balik akademik, ga akan wisata kuliner kalau nggak sambil bikin tugas atau belajar. Kalau dalam kesempatan ini, aku bertiga sama teman sekelompok Manajemen Proyek, Novita dan Ilma mengerjakan tugas rancangan proyek. Dimana proyek kami adalah wedding organizer 😳 Eh ngomong-ngomog, salah satu hasil dari tugas ini adalah waktu untuk mempersiapkan acara resepsi pernikahan lengkap itu kurang lebih satu tahun lho 😛

Oke kembali ke cerita tentang tempat makan, kami waktu itu mau makan sambil mengerjakan tugasnya. Jadi butuh tempat yang cukup terang dan ada colokan listrik. Setelah tanya sana-sini, si mbak kamar sebelah, Risa, menjawab via SMS kalau di Tokyo Connection enak. Tempatnya di jalan Progo, di deretan Kopi Progo, Gigglebox, Hummingbird situ. Pilihan menunya ada ramen dengan level kepedasan tertentu, teriyaki, dan makanan Jepang lain, juga ada pancake dna sebangsanya. Aku pesan ramen, sementara dua bocah lain pesan beef teriyaki. Ya pokoknya pesan yang di daftar menunya ada jempol alias recommended 😛

Pas ramennya datang, whoa kaget aku 😯 mangkoknya tuh segede wajan deh kayaknya. Diameternya sekitar 25 cm kali, pokoknya heboh gitu deh. Yang sampai sendoknya bakal tenggelam kalau dibiarkan nggak dipegangi 😆 Enak sih, yang beef teriyaki juga enak. Minumnya ada macam-macam jus, aku pilih jus jambu biji. Enak. Tempatnya juga oke, sayangnya kalau colokan listrik memang ada tapi jumlahnya kurang. Hmm, secara keseluruhan, dari skala 0-5, Tokyo Connection aku kasih hmmm… 4 deh 😀

Yak, seri kuliner lagi 😀

Dari hari Minggu sampai Kamis pagi, ada teman sekelas aku waktu SMA nginep di kosku. Dia kuliah di Unair dan lagi libur. Jadilah dia kami (aku dan teman-teman dia yang lain yang kuliah di Bandung) ngajak dia jalan-jalan terutama makan 😀 Kemarin tuh sempat ke Madame Sari (restonya Kartika Sari Dago), Double Steak, Sushi Boon, sama ke Punclut. Nah kali ini aku mau nulis soal Double Steak.

Double Steak ini bentuknya semi-outdoor, letaknya di Jalan Jawa, nggak jauh dari SMA 3 dan SMA 5 Bandung. Pertama kali kesini diajak sama Risa dan ibunya 😀 Terus setelah itu makan disana lagi karena kosan temenku Nonop dulu terletak sekitar dua rumah di sebelah Double Steak. Tempat ini salah satu tempat makan favoritku, enak dan harganya terjangkau. Kisaran harganya sekitar 20 ribuan, dan minumannya rata-rata dibawah 10 ribu. Menu favoritku disini tentu saja Wiener Schnitzel, yummy banget deh! Nih fotonya. Jelek fotonya karena kalo malem lampunya nggak terang, jadi fotonya pake flash, susah fokus deh.

Menu yang ada di sini ada bermacam-macam steak, mulai sirloin, tenderloin, mixed, fish, wiener schitzel, sampai sup dan menu lain seperti fries. Ada tiga pilihan saus untuk steak yaitu barbeque, black pepper, dan mushroom. Minumannya ada yang panas dan ada yang dingin: teh, lemon, macem-macem kopi, milkshake juga ada. Suasananya cukup menyenangkan lah. Meskipun kadang-kadang rame banget sehingga harus nunggu meja kosong. Untungnya kemarin nggak.

Secara keseluruhan, aku merekomendasikan tempat ini buat makan steak yang enak (memang bukan kelas steak mewah sih) dengan harga terjangkau. Yaa, pas buat mahasiswa deh 😉 tapi keluarga juga bisa sih makan di sini. Oya kemarin waktu kesini kan aku dibonceng temanku, dia nggak tahu jalannya. Pas lewat jalan Kalimantan, mestinya kan habis itu belok kiri, tempatnya di kanan jalan. Aku udah kebayang banget, tapi aku malah bilang ke dia “belok kanan, tempatnya di kiri jalan” 😆 Ya maap deh 😛

Berhubung habis nulis tentang Kambing Soen, aku jadi kepingin mulis tentang kuliner Bandung lagi. Kalau yang satu ini makannya udah agak lama, bulan November kemarin. Perginya tidak terencana, berawal dari mau ujian sebuah mata kuliah yang sejujurnya waktu itu aku dan teman-teman masih cukup blank. Nah waktu belajar bareng di student lounge prodi TK, ada kakak kelas yang baru lulus nyamperin. Dia bilang punya kumpulan soal dan penjelasannnya, tapi ada di rumah. Sementara dia setelahnya harus pergi ke Jakarta, padahal kami kuliah sampai maghrib. Akhirnya dia menyuruh kami buat ambil soalnya di rumah dia, di daerah Cipaganti.

Habis kuliah dan nunggu yang rapat, sekitar jam 7 kami pergi ke daerah Cipaganti, seperti biasa pakai mobilnya Ilma. Setelah insiden kecil dimana di rumah si kakak kelas ada anjing padahal 3 dari 4 wanita yang pergi kesana fobia anjing 😆 dan sedikit bongkar-bongkar lemari, soal yang dicari pun ditemukan. Berhubung sudah lapar, kami cari makan dulu sekalian sebelum pulag. Seperti biasa juga, kalau sama anak-anak ini yang mayoritas plegmatis, bingung deh mau menentukan makan di mana. Jawaban yang keluar selalu “Terserah” 😀 Entah bagaimana deh pokoknya kami akhirnya makan di Iga Bakar Si Jangkung Cipaganti.

Tempatnya ada di Jalan Cipaganti, dekat masjib besar. Tempatnya tidak terlalu besar, kayak depot gitu dengan meja-meja panjang dan kursi plastik. Ada live music juga 😛 Pilihan menunya iga bakar, tongseng, dan lain-lain *aku lupa* dengan pilihan sapi atau kambing. Disajikan di hotplate jadi nggak cepat dingin. Enak banget loh menurut gue. Yang macam tongseng gitu kalau nggak salah harganya belasan, yang iga bakar 20 ribu. Kalau dalam skala 0-5, aku bisa kasih nilai 5 deh. Apalagi buat penggemar makanan pedas kayak aku, iga bakarnya mantap lah 😀 Cuma agak lama aja masaknya, mungkin karena lagi rame juga. Berhubung waktu itu nggak bawa kamera, jadi fotonya ambil dari sumber lain ya

Sumber gambar: travel.kompas.com

Kalau lagi wisata kuliner di Bandung atau sekedar lapar, tempat ini direkomendasikan banget deh. Buat kesananya kalau naik angkot, setauku Caheum-Ciroyom lewat situ. Dan bolehlah ajak-ajak penulis blog ini kalau mau makan di situ :mrgreen:

Hari Sabtu kemarin aku makan di Kambing Soen di daerah Dago. Lokasinya agak atas, kalau dari bawah setelahnya Sheraton, sebelah kanan jalan. Sebenarnya sudah agak lama pengen kesini sama teman-teman kuliah-belajar bareng, tapi belum sempat. Akhirnya waktu kemarin ada teman lain yang ngajak, pergi deh.

Sesuai namanya, menu yang disediakan tempat ini berkisar kambing dan masakan timur tengah gitu. Tempatnya lumayan enak, semi-outdoor dan ada TV besar.

Itu foto interiornya. Tapi karena lampunya tidak terlalu terang dan tidak ada colokan listrik, jelas ini bukan pilihan tempat buat makan-sambil-nugas-atau-belajar, aktivitas rutin terutama di musim ujian 😆

Soal makanan, lumayan sih. Ya dalm skala 0-5, aku kasih nilai 3. Kalau dari rasa sebenarnya diatas itu, tapi porsinya sedikit *ya maap, saya makannya banyak meski lama banget* 😛 Aku kemarin pilih menu paket yang isinya kambing bakar, nasi, dan iced lemon tea. Kalau si teman makan sup ala timur tengah which turned out to be tidak lain adalah semacam gule 😆 Pilihan lain ada tongseng, sate, makanan yang agak ringan seperti roti bakar dan pancake juga ada. Minumnya macam-macam, ada jus, berbagai varian kopi, dan es krim. Sayangnya makanannya nggak sempat difoto, pas makanannya datang udah lapar jadi lupa deh sama acara foto-foto :mrgreen: Secara keseluruhan, kalau lagi ada di sekitar Dgao bolehlah dicoba, tapi kalau sekalian pengen jalan-jalan ke daerah lain ada beberapa alternatif makanan serupa yang mungkin lebih mengenyangkan 😀