Le Voyage de la Vie

Sejak masih kerja di tempat sebelumnya, aku sudah berencana untuk jalan-jalan ke Korea atau Jepang. Berhubung pindah kerja, rencana itu harus tertunda sampai aku dapat jatah cuti. Aku mulai dapat jatah cuti per Desember 2015, tapi berhubung Desember musim liburan, aku memutuskan untuk ke Seoul di bulan Januari 2016 supaya tidak saat peak season dimana harga penerbangan dan penginapan jadi mahal, sekalian merasakan musim dingin untuk pertama kalinya.

Di bulan Januari 2016, aktor Korea favoritku, Um Ki-Joon (yang fotonya jadi lockscreen HP aku), akan main musikal berjudul “Rebecca” yang diadaptasi dari novel berjudul sama karya Daphne du Maurier. Penyanyi favoritku, Ryeowook dan Kyuhyun dari Super Junior juga akan main teater dan musikal di bulan Januari. Jadi pas, selain jalan-jalan, aku juga bisa menonton para favoritku main musikal dan teater yang hanya digelar di Korea, berbeda dengan konser K-pop yang kadang digelar di berbagai negara termasuk Indonesia. Aku ingin sekali nonton aktor Um Ki-Joon main musikal. Aktor ini pernah main beberapa drama TV seperti Scent of A Woman (sebagai dr. Chae Eun Suk) dan Ghost/Phantom (sebagai Cho Hyun Min), tapi di Korea dia lebih terkenal sebagai aktor di panggung musikal.

Persiapan pertamaku adalah membeli tiket musikal, karena tiket musikal dan teater biasanya dijual 1-3 bulan sebelum acara. Untuk “Rebecca” penjualan tiket dibuka di Oktober 2015. Di awal penjualan tiket, biasanya ada diskon yang cukup besar, antara 20-30%. Beberapa minggu kemudian, aku juga membeli tiket teater Ryeowook “The Curious Incident of The Dog in Night-Time” yang diadaptasi dari novel Mark Haddon, dan musikal Kyuhyun “Werther” yang diadaptasi dari novel karya Goethe. Pemesanan tiket teater dan musikal dapat dilakukan melalui website Interpark Global yang memiliki versi Bahasa Inggris dan pembayaran dapat dilakukan dengan kartu kredit.

Selanjutnya aku mulai mengurus visa, membeli tiket penerbangan, dan memesan penginapan. Pengurusan visa dapat dilakukan sendiri ke Kedutaan Besar Korea Selatan, dengan persyaratan yang tidak terlalu sulit, tetapi aku titip pengurusan visa melalui biro perjalanan yang berkantor di komplek kantorku karena tidak ada waktu. Biaya pengurusan visa langsung Rp 560.000 dan biaya tambahan dari biro perjalanan tidak sampai Rp 100.000. Lama pengurusan sekitar 1 minggu. Tiket penerbangan dan bukti pemesanan hotel tidak menjadi syarat visa Korea Selatan, jadi pengurusan visa bisa dilakukan sebelum memesan penerbangan dan hotel, jika tidak mau resiko visa ditolak dan penerbangan hangus.

Untuk penerbangan, aku memilih penerbangan transit di Kuala Lumpur. Satu tips menarik adalah pemesanan tiket di maskapai low cost carrier ini ternyata lebih murah kalau dipesan terpisah antara Jakarta-Seoul dan Seoul-Jakarta daripada dipesan langsung bolak-balik. Selisihnya ada di harga penerbangan Seoul-Jakarta, yang mana ketika dipesan sebagai penerbangan bolak-balik, harganya sekitar Rp 2.600.000, tetapi jika dipesan sebagai penerbangan sekali jalan harganya bisa hanya sekitar Rp 1.300.000 saja. Tetapi pembayaran untuk penerbangan Seoul-Jakarta hanya dapat dilakukan dengan kartu kredit, tidak bisa melalui ATM atau transfer.

Aku menginap di penginapan MOM House milik Kyuhyun dan keluarga. Bukan hanya karena aku suka Kyuhyun, tetapi lokasi penginapan sangat strategis, tepat di sebelah stasiun subway Myeongdong. Bus dari bandara juga berhenti tepat di seberang jalan dari penginapan. Myeongdong sendiri sebagai surge belanja, terutama untuk berbelanja produk perawatan kulit. Pemesanan penginapan di Seoul bisa dilakukan melalui website seperti Agoda, Booking.com, Hostelworld, dan sebagainya, tapi bisa juga langsung. Beberapa penginapan memberikan diskon tambahan untuk pemesanan langsung, jadi sebaiknya bandingkan harga dari semua cara pemesanan. Di MOM House sendiri, aku dapat diskon lumayan dengan menjadi member. Untuk menjadi member juga gratis, tinggal mendaftar saja melalui website. Saat check in, kami dapat diskon tambahan 5% karena menginap 5 malam. Jadi kalau dibandingkan dengan penginapan lain di website seperti Booking.com, MOM House tampak sedikit lebih mahal, tapi dengan berbagai diskon dan fasilitas yang diberikan serta lokasi, kami puas menginap disana. Bangunannya 6 lantai dilengkapi dengan lift, kamar privat mulai untuk 1-5 orang dengan kamar mandi, pantry di tiap lantai, dan di kamar dilengkapi pemanas lantai, kulkas, dan hair dryer. Jadi sudah seperti hotel mini.

Dekorasi MOM House Cafe

Dekorasi MOM House Cafe

Karena di Seoul sedang musim dingin, harus menyiapkan pakaian khusus juga, Kalau tidak mau repot, bisa membeli disana karena harga pakaian musim dingin di toko-toko yang ada di stasiun subway ataupun di jalanan seperti Myeongdong atau Hongdae cukup murah dibandingkan di mall-mall di Indonesia. Paling tidak bawa jaket dan pakaian tebal untuk berangkat. Long john atau pakaian dalam setelan celana dan atasan lengan panjang dengan bahan khusus termal sangat membantu. Syal, sarung tangan, topi, penutup telinga, dan masker wajib dipakai karena bagian-bagian seperti tangan dan wajah akan terasa lebih dingin daripada badan yang sudah terbungkus jaket. Begitu sampai di bandara Incheon dan menapakkan kaki di luar bangunan untuk menuju ke bus, langsung terasa dinginnya, saat itu temperatur sekitar 0°C. Brrrr!

Hari pertama di Seoul, aku nonton teater “The Curious Incident of The Dog in Night-Time” di BBCH Theater, Apgujeong. Sangat menarik, dimana karakter utama Christopher yang diperankan Ryeowook adalah anak 15 tahun dengan sindrom Asperger’s. Seluruh aktor dan aktris pendukung duduk di sisi kanan dan kiri panggung, dan mereka memerankan apa saja mulai dari tetangga sampai simbolis menjadi laci dan lemari ketika Christopher mencari surat ibunya yang dikira telah meninggal. Aku sudah pernah baca novelnya, jadi cukup mengerti jalan cerita meski tidak bisa bahasa Korea.

Banner "The Curious Incident Of The Dog IN Night-Time"

Banner “The Curious Incident Of The Dog in Night-Time”

Pertunjukan kedua yang aku tonton adalah musikal “Werther” di CJ Towol Theater, Seoul Arts Center. Musikal ini sudah 15 tahun digelar di Korea. Di musim ini, Kyuhyun baru memerankan Werther untuk pertama kalinya sementara aktor Um Ki-Joon sudah memerankan peran tersebut sejak 2002. Memang untuk musikal dan teater biasanya peran utama dimainkan bergantian oleh 2-4 aktor atau aktris karena pertunjukan diadakan setiap hari. Sayangnya selama aku disana, Um Ki-Joon tidak ada jadwal “Werther”, hanya “Rebecca”. Pertunjukan musikal ini sangat berkualitas dengan musik orkestra yang indah. Berbeda dengan pertunjukan teater yang penuh dialog dan monolog, di musikal beberapa bagian cerita disampaikan melalui lagu. Jadi untuk menjadi aktor atau aktris musikal, tidak hanya diperlukan kemampuan akting tetapi juga vokal. Cerita sedih tentang cinta tak terbalas, alunan musik, dan lagu-lagu yang ditampilkan oleh Kyuhyun, aktris Jeon Mido yang memerankan Lotte, dan aktor-aktris lain, mampu membuat banyak penonton menangis.

Triple Cast untuk Peran Werther: (ki-ka) Um Ki Joon, Jo Seung Woo, Kyuhyun

Triple Cast untuk Peran Werther: (ki-ka) Um Ki Joon, Jo Seung Woo, Kyuhyun

Karena ini adalah pertunjukan terakhir Kyuhyun di Seoul, di akhir pesan seperti biasa para aktor dan aktris menyampaikan kesan dan pesan. Sebuah kejutan buatku dan semua penonton serta mungkin aktor dan aktris di panggung adalah kemunculan aktor senior Um Ki-Joon mengantarkan mikrofon ke panggung untuk Kyuhyun. Aku tidak menyangka akan bisa melihat langsung aktor favoritku sebelum menonton musikal “Rebecca” sesuai rencana. Karena itu setelah pertunjukan selesai, aku menunggu di lantai bawah dengan para penonton lain, dengan harapan bisa menyapa aktor favoritku. Tidak berapa lama kemudian, Um Ki-Joon benar-benar muncul. Berbeda dengan aktor dan aktris lain yang berjalan diantara penonton yang berbaris dan mengambil foto, dia berjalan agak di pinggir, untung saja aku mengenalinya. Aku memanggil dia, “Oppa! Ki-Joon oppa!” Dia dengar dan tersenyum. Aku memberikan kado yang sudah aku siapkan, dan memberi tahu kalau aku adalah penggemarnya dari Indonesia, dan aku akan menonton musikal “Rebecca”. Dia menjawab dengan ucapan terima kasih. Rasanya seperti mimpi bisa berbicara langsung dengan aktor favoritku. Dari dekat dia tampak jauh lebih muda dari usianya yang hampir 40 tahun.

Banner Rebecca dan Werther di Seoul Arts Center

Banner Rebecca dan Werther di Seoul Arts Center

Pertunjukan terakhir yang aku tonton sebelum pulang ke Indonesia tentu saja adalah “Rebecca” di Opera Theater, Seoul Arts Center, yang kapasitasnya dua kali CJ Towol. Bila dibandingkan dengan “Werther” yang indah tetapi sedih, musikal ini lebih gelap dan dengan desain panggung luar biasa menarik dan kompleks. Um Ki-Joon berperan sebagai Maxim de Winter, yang bertemu dan jatuh cinta dengan seorang gadis muda setelah istrinya, Rebecca, meninggal. Gadis ini namanya tidak pernah disebut di sepanjang buku dan musikal. Kehidupan gadis ini berubah 180° setelah menjadi istri Maxim de Winter dan tinggal di Manderley, rumah besarnya di Inggris. Di sana, housekeeper (pengurus rumah tangga) Mrs. Danvers, diperankan oleh aktris Cha Ji-Yeon, meneror sang tokoh utama dengan membanding-bandingkannya dengan Rebecca. Maxim sendiri ternyata menyimpan rahasia dibalik kematian Rebecca. Lagu solo Maxim de Winter, “God, Why?” dan “Never A Smile Was So Cold”, yang memperlihatkan bagaimana ia tersiksa ketika hidup di Manderley bersama Rebecca dibawakan dengan sangat baik oleh Um Ki-Joon, hingga seluruh penonton memberi aplaus ketika selesai. Adegan klimaks di musikal ini adalah lagu “Rebecca” ketika Mrs. Danvers membawa tokoh utama ke sebuah balkon dan meyakinkannya untuk melompat karena dia tidak sebanding dengan Rebecca. Penonton awalnya dapat set panggung berupa ruangan di dalam rumah dengan balkon, kemudian set panggung berputar untuk memperlihatkan bagian luar balkon ketika tokoh utama hampir melompat. Merinding rasanya menonton adegan itu.

Banner Um Ki Joon sebagai Maxim de Winter di Musikal Rebecca

Banner Um Ki Joon sebagai Maxim de Winter di Musikal Rebecca

Setelah pertunjukan, aku dan teman-temanku menunggu Um Ki-Joon lagi karena teman-temanku ingin memberi kado juga. Seorang penggemar Um Ki-Joon di Korea memberi tahu kami dimana harus menunggu. Kami beruntung, dia memang lewat di dekat tempat kami menunggu, dan aku menyapanya lagi. Kali ini tidak di tengah keramaian sehingga aku bisa mendengar jelas ketika dia  berkata “Annyeonghaseyo.” (Halo) dan “Ne, kamsahamnida.” (Terima kasih) saat menerima kado kami. Senang sekali bisa menonton pertunjukan musikal yang bagus dan juga bertemu dengan aktor favorit dua kali. Memang kami tidak sempat berfoto bersama, tapi kenangannya akan selalu tersimpan di hati.

Selain menonton musikal, aku juga mengunjungi berbagai tempat wisata di Seoul. Jalanan Myeongdong dengan berbagai toko dan jajanan khas Korea hamper tiap hari kami kunjungi. Saat berbelanja produk perawatan kulit di Myeongdong, toko biasanya akan membeli bonus sampel berbagai produk lain. Kami juga mengunjungi Cheonggyecheon stream, dengan air mancur yang membeku di musim dengan. Di dekat situ ada Gwanghwamun square dan istana Gyeongbokgung. Di istana Gyeongbokgung ada upacara pergantian penjaga yang diadakan setiap dua hari sekali. Tidak jauh dari situ juga ada Bukchon Hanok Village dengan rumah-rumah tradisional Korea yang indah. Berbelanja oleh-oleh bisa dilakukan di Insadong. Berbagai pernak-pernik dan kerajinan khas Korea dijual mulai dengan harga murah sampai mahal. Untuk tahu mengenai sejarah Korea, National Museum bisa dikunjungi, tiket masuknya gratis dan ada guide berbahasa Inggris yang menjelaskan tentang berbagai koleksi museum.

Cheonggyecheon Stream

Cheonggyecheon Stream

Istana Gyeongbokgung

Istana Gyeongbokgung

Istana Gyengbokgung

Danau di Kompleks Istana Gyengbokgung

Pagoda di National Museum

Pagoda di National Museum

Bagi para Muslim, di daerah Itaewon ada masjid Seoul dan di sekitarnya ada banyak restoran halal. Tempat menarik lain yang bisa dikunjungi adalah Trickeye Museum, yang penuh dengan lukisan 3 dimensi dimana pengunjung dapat berfoto dan mendapat hasil mulai seolah sedang dimakan hiu, sampai sedang berada di kebun bunga. Harga tiket masuknya 15000 won tetapi dengan kupon diskon, tinggal 12000 won saja. Mencari kupon diskon turis di internet cukup penting sebelum traveling, karena bisa membantu untuk menghemat. Ketika traveling ke Kuala Lumpur sebelumnya, aku juga menggunakan kupon diskon untuk KL Tower. Selain untuk Trickeye museum, di Seoul aku menggunakan kupon diskon turis untuk menyewa wifi egg (modem wireless mini) dan belanja produk perawatan kulit. Selain Trickeye museum, dengan tiket yang sama, pengunjung juga bsia masuk ke Ice museum.

Di Trickeye Museum

Di Trickeye Museum

Jadi Duyung di Trickeye Museum

Jadi Duyung di Trickeye Museum

Berkunjung ke Seoul tidak lengkap rasanya kalau tidak ke N Seoul Tower (Namsan Tower). Untuk menuju kesana bisa dijangkau dengan mendaki bukit, tetapi karena udara terlalu dingin, aku ke sana dengan naik Namsan Oreumi, semacam lift miring menaiki bukit dari daerah Myeongdong dan dilanjutkan dengan naik cable car. Dari observatorium di atas N Seoul Tower, kita bisa melihat keseluruhan kota Seoul dan daerah di sekitarnya. Di dasar menara ada tempat dimana pasangan biasa menggantungkan gembok sebagai harapan untuk cinta abadi. Berhubung aku belum ada pasangan, jadilah hanya berfoto saja disana. Tempat khas Seoul lainnya adalah sungai Hangang, yang sering jadi setting tempat jalan-jalan di drama-drama Korea. Pengunjung bisa berjalan-jalan, olahraga, bermain, atau piknik di taman di sisi sungai, ataupun naik kapan menyusuri sungai.

Yeouido Hangang Park

Yeouido Hangang Park

Sungai Hangang

Sungai Hangang

Secara keseluruhan, mengunjungi Seoul sangat menarik dan bisa dilakukan dengan hemat jika memanfaatkan berbagai diskon dan promo yang ada. Pertunjukan musikal dan teaternya berkualitas, dengan penonton yang tenang dan menikmati pertunjukan. Suatu saat aku ingin berkunjung lagi kesana untuk nonton musikal lain dan mengunjungi tempat-tepat lain yang kemarin belum sempat dikunjungi. Dan siapa tahu bisa bertemu aktor favoritku lagi.

Ramyun + Tteokpokki = Rapokki

Ramyun + Tteokpokki = Rapokki

Gurita Bakar, Jajanan Jalanan Myeongdong

Gurita Bakar, Jajanan Jalanan Myeongdong

Setelah dari KLCC, aku dan Ilma jalan kaki ke Bukit Bintang. Bentuk jalannya Walkway, di atas seperti jembatan penyeberangan, tapi panjang dan tertutup. Lumayan juga, sekitar 15 menit mungkin ya. Bukit Bintang isinya mall dan mall. Karena sudah sore dan kami lapar (lagi😀 ) akhirnya kami mulai cari makan. Eh tiba-tiba hujan, jadilah kami berteduh dulu di Lot 10, salah satu mall yang udah cukup lama. Di basement mall ini ada foodcourt yang cukup terkenal, Lot 10 Hutong. Tadinya mau coba, tapi ternyata semuanya makanan non-halal. Setelah hujan berhenti, kami jalan lagi, lewat Jalan Alor. Jalan Alor ini juga pusat Chinese food, dan lagi-lagi gagal nemu makanan halal yang menarik😦 Bosen juga kalau makanan India lagi, siangnya sudah makan nasi Kandar.

Petaling Street, photo by Ilma

Jalan Alor, photo by Ilma

Read the rest of this entry »

Ups, sudah 3 tahun ternyata aku nggak nulis disini😀
Setelah lulus kuliah tahun 2012, aku kerja di Jawa Timur, seminggu sekali bisa pulang ke rumah. Di rumah dan di tempat kos nggak ada internet kabel/wifi, jadilah kegiatan ngeblog lama-lama terlupakan. Sejak sekitar setahun lalu aku pindah ke Jakarta, di kos ada internet sih, tapi sudah terlanjur kehilangan motivasi nulis. Hehehe maaf~
Anyway, kali ini ada yang aku pengen ceritakan. Minggu lalu aku liburan super hemat ke Kuala Lumpur. Paket penerbangan pulang pergi dan hotel (bintang 3, untuk 2 malam, 2 orang sekamar) dapat promo seharga Rp 600.000. Pengeluaran selama disana total RM 220 (sekitar Rp 725.000). Ditambah ojek, bus, dan taksi dari kos ke bandara dan bandara ke kos, ya sekitar Rp 1,5 juta lah😀

Read the rest of this entry »

Beberapa waktu lalu sempat mengobrol dengan seorang teman, menyangkut perkembangan teknologi, khususnya di bidang telekomunikasi. Sekarang ini, khususnya di Indonesia, dan terutama lagi di kota besar, nyaris semua orang punya alat telekomunikasi pribadi, yaitu HP. Jaringan internet juga sudah gampang didapatkan dimana-mana. Memudahkan hidup? To a certain point, yes. Mendekatkan yang jauh? Ya benar. Coba contohnya lewat blog seperti ini aku jadi bisa berkomunikasi, slaing berkomentar, dan tau secuplik kehidupan dari orang-orang yang memang sudah dikenal tapi secara geografis jauh (seperti memtike), kenalan baru yang ada di lain pulau (seperti mel), atau bahkan luar negeri (seperti zilko). Telepon pun juga semakin murah, mamaku bisa nelpon kapan aja tanpa heboh biaya interlokal seperti yang aku tau jaman aku SD dulu. Temanku yang orang tuanya di luar negeri juga sering ditelepon via VoIP.

Nah tapi, disadari atau tidak, teknologi juga bisa menjauhkan yang dekat. Sekarang ini sering kan lihat ada beberapa orang duduk berdekatan tapi sibuk dengan gadget masing-masing. Bukannya membangun interaksi sosial yang nyata, tapi justru sibuk dengan interaksi di dunia maya. Memang sih, kadang apa yang ada di gadget itu penting, seperti berita penting atau email penting. Dan aku sendiri juga nggak sok suci, aku pun juga sering ngecek HP di tengah keramaian. Dan jujur saja, misalnya di lingkungan tempat tinggal, aku nggak kenal dengan penghuni kos sebelah-sebelah. Justru teman baru lebih banyak di dunia maya.

Hmm, jadi aku pikir sih seharusnya meski teknologi telekomunikasi sudah sedemikian majunya, interaksi sosial nyata tetap nggak boleh dilupakan. Bagaimanapun misalnya kita jatuh (dalam arti sebenarnya, kepeleset mungkin), ketusuk jarum, atau keiris pisau, yang akan menolong kan orang yang secara fisik dan geografis dekat, bukan yang dekat via dunia maya saja. Tapi di sisi lain, punya kenalan, teman, dan kontak sebanyak dan seluas mungkin juga nggak ada ruginya, justru banyak sisi positifnya. Jadi ya mesti seimbang😀

Wah sudah lama juga ya nggak nulis di sini😥 Baiklah sebelum mulai menulis lagi tentang macam-macam, aku mau cerita dulu tentang apa yang terjadi selama aku menghilang dari dunia blog. Aku mulai dari Mei, meskipun sekitar bulan Juni kemarin aku masih sempat nulis disini juga.

Mei

Mei tahun ini adalah bulan yang snagat hectic saudara-saudara. Selain UAS seperti tahun-tahun sebelumnya, tahun ini juga ada deadline tugas akhir. Tugas akhir di jurusanku ada dua, Penelitian dan Rancang Pabrik, tapi maisng-masing berkelompok. Aku juga daftar program internship di Chevron. Karena programnya dimulai tanggal 28 Mei, jadi aku harus beres tugas akhir sebelumnya, yah deadline jadi lebih cepat beberapa hari dibanding yang lain. Setelah semua urusan beres, orang tuaku datang ke Bandung buat bantu packing karena barang-barangku yang di kos mau dikirim ke rumah. Nggak ngekos selama ditinggal internship. Terus ke Jakarta buat semacam orientasi programnya dan besoknya terbang ke Pekanbaru lewat bandara Halim Perdanakususma. Pertama kali naik pesawat dari Halim😀

Juni-Juli

Dua bulan ini nggak ada cerita yang menarik kayaknya😛 Sebagian seperti tentang kabut asap sudah aku tulis juga. Oh iya, di bulan Juli sempat main ke Bukittinggi sama teman-teman yang internship di Duri. Pergi dari Duri sekitar jam 9 malam hari Jumat, sampai Bukittinggi Sabtu pagi. Pulangnya Minggu siang. Wah keren banget sih pemandangan alamnya. Sempat ke Ngarai Sianok, Lembah Harau, Istana Pagaruyung, dan Jam Gadang. Sayangnya wkatu mau lihat Danau Maninjau dari atas, ketutup kabut😦

Agustus

Tanggal 7 Agustus program internship selesai dan kami dikembalikan ke Jakarta. Pesawat dari Dumai ke Jakarta delay sekitar 3 jam karena… nunggu bus dari Duri yang mengangkut penumpang😐 Haha, pesawatnya coplane sih, bukan pesawat komersial. Dari Jakarta ke Surabaya naik pesawat berdua sama teman yang habis internship di Balikpapan. Karena dari perusahaan cuma ditanggung sampai Jakarta, jadi buat balik ke Surabaya aku bareng satu-satunya anak internship yang dari Surabaya juga. Berasa mau/habis honeymoon gitu deh di bandara berdua. Selanjutnya sekitar dua minggu lebih di rumah, nggak terlalu banyak aktivitas sih. Sempat buka bersama bareng teman-teman sekelas SMA. Terus sebelum balik ke Bandung sempat liburan ke Batu sama keluarga, sekalian mengantar adik sepupu yang mau kuliah di Malang. Akhir Agustus balik ke Bandung, pertama kali naik pesawat sendirian. Habis tiket kereta ampun mahalnya.

September.

Nah ini nih bulan penuh cerita untuk dikenang tapi tidak untuk diulang. Meskipun tugas akhirku sudah beres di bulan Mei, aku belum lulus lho. Karena di jurusanku, penentu kelulusannya itu ujian komprehensif. 1 SKS, tapi materi yang diujikan adalah materi dari semester 1. Ujiannya dari jam 8 pagi sampai jam 5 sore, 4 sesi maisng-masing 25 soal dalam 100 menit. Jadi mulai sampai Bandung aku belajar bareng sama temna-teman pejuang kompre September lainnya setiap hari. Bahkan hari Minggu juga. Sebenarnya waktu persiapan kami maish agak lama sih dibanding yang kompre Juni kemarin. Nah yang seru sedih, waktu H-10 aku sakit tipes. Waktu itu beberapa hari tiap sore pulang dari kampus mesti demam. Akhirnya disuruh dokter tes darah lengkap, tapi trombonya normal, jadi bukan demma berdarah. Setelah dites widal, ketahuan lah sakitnya apa. Untungnya nggak perlu rawat inap. Tapi harus bed rest di kos. Waktu semester lalu skait yang sama, aku pulang ke rumah. Tapi karean sudah dekat ujian nggak mungkin juga dong pulang. Untung di kos ada temanku yang sudah lulus Juni kemarin, yang baik hati membelikan makan biar aku nggak usah keluar. Teman-teman yang mau ujian kompre juga sempat belajar di kosku. Untungnya pas ujian sudah sehat. Dan besoknya wkatu pengumuman hasil, alhamdulillah lulus. Nilainya nggak usah disebut lah ya.

 

Nah demikian itu kenapa aku dari Mei kemarin menghilang. Karena sekarang udah nggak ada tanggungan ujian, aku bakal berusaha nulis disini lebih sering deh😀

 

Kabar terbaru dari Dumai: ASAP😥 Jadi sejak minggu lalu di sini sering sekali ada asap. Semacam kabut asap gitu. Katanya sih dari pembakaran lahan dan hutan. Terutama pagi hari saat baru keluar rumah mau sarapan terus ke kantor, wuih penuh asap deh😦 Sampai dari kantor dikasih masker yang mesti dipakai tiap ada di luar ruangan. Bahkan kadang di dalam ruangan masih terasa juga. Temanku disini ada yang lagi sakit batuk dan kayaknya nggak sembuh-sembuh juga karena itu. Apalagi dia punya asma. Aku sendiri alhamdulillah sampai sekarang belum kena pengaruh apa-apa dari asap itu, tapi menyebalkan juga sih. Pakai masker pun nggak nyaman kan. Yah semoga asapnya cepat hilang. Tpai denger-denger dari Ilma temanku yang dulu pernah tinggal di Riau sih, justru Juni-Agustus itu parah-parahnya asap. Hwew…

Tags: ,

3 minggu hidup di tempat baru ini bikin aku jadi nyadar kalau aku kangen Bandung. Nggak terasa udah 8 semester = 4 tahun tinggal di Bandung. Yang dulu awalnya sempat stress dan homesick plus nangis-nangis bombay kangen rumah dan merasa nggak sanggup hidup sendiri di Bandung, sekarang justru jadi kangen. Tanpa disadari dari yang dulu hidup di Bandung itu keluar dari zona nyaman, eh sekarang Bandung itu sudah jadi zona nyaman😀

Bukan berarti aku nggak suka hidup disini. Nggak kok, nggak sampai homesick kayak waktu awal-awal di Bandung. Masih doyan makan kok😆 Cuma apa ya, salah satu yang bikin aku seneng di Bandung itu karena di sana aku bisa mandiri. Mau kemana-mana gampang pergi sendiri. Pengen apa, perlu apa, bisa cari sendiri. Kalo di rumah kan rumahku cukup jauh dari mana-mana dan nggak ada kendaraan umum, jaid buat hal simpel kayak ke minimarket atau ATM aja mesti nunggu ada yang nganterin. Sama seperti disini, kalo mau ke kota mesti nunggu jadwal round bus yang cuma siang sehingga cuma bisa pergi Sabtu-Minggu. Buat makan juga sudah disediakan sih, tapi itu artinya nggak bisa pilih menu juga. Belum terbiasa aja sih dengan pola kehidupan begini.

Kembali ke topik, kangen deh sama Bandung. Kangen jalan-jalan sendirian makan pempek depan BEC sebelum ato sesudah les Prancis, kangen jalan sama teman-teman juga. Dan yang bikin agak sedih, nanti pas aku balik ke Bandung, teman-temanku kayaknya bakal banyak yang udah lulus. Seneng sih kalo teman-teman lulus, tapi sepi dong😦